ulil fitriyah

Kamis, 24 September 2020

Aku, Kamu, DIA dan KITA..

 




Kalau bukan karena DIA, 

.

KITA, tidak akan pernah ada

.

saat ini

.

hingga nanti


Terimakasih sudah mendampingi 

.

dan ikhlas dengan adanya diri

.

KITA sama, hanya karena DIA

.

Itu saja!! 

.

"TITIK"

.

tanpa jeda, tanpa koma. 


#ElevenYears

#Grateful


**************************



Bahagia saja?! 

Itu syurga!


Duka saja?! 

Itu Neraka!


Sementara kita? Masih di dunia! 

Dimana bahagia dan Duka, datang silih berganti. 

Dan itulah warna


Baik saja?! 

Itu Malaikat


Buruk saja?! 

Itu Makhluk lainnya


Sementara kita?! Manusia!

Baik dan buruk?!kita berpunya. 

.

Dan 

.

Aku, 

Kamu,

Hadir menjadi satu, untuk saling melengkapi

Segala yang tidak sempurna.


25 September 2009 - 25 September 2020


#MerekamJejak

Selasa, 22 September 2020

Inikah Sebuah Tanda? (Sang Dokter Itu: Part 2)

 Sabtu, 23 Agustus 2020

Sepulang takziyah, ibuku menelponku. Maklum, aku sendiri tidak bisa mengikuti acara pemakaman cak Bandi langsung pada hari H, karena posisiku yang berada dikota yang berbeda. Aku dan suamiku merencanakan pulang beberapa hari lagi ke kampung halamanku, setelah semua tanggung jawab yang ada dirumah kami tuntaskan semua. "Sambang Ibu sekalian nanti takziyah ke keluarga cak Bandi" begitu kata suamiku.

Dan sore itu, sembari melepaskan penat Ibu memulai kisahnya. Menceritakan bagaimana kronologi kejadian awal cak Bandi mulai merasakan sakit kepala hebat sampai tak mampu lagi menahannya, hingga pada akhirnya malaikat maut menjemputnya dengan begitu indah sehingga membuat iri kami sekeluarga. 

"Subhanallah nduk, opo amalan e Bandi iku kiro-kiro? Jan kok penak temen lek ndak onok umure" Begitu ibu memulai ceritanya melalui telpon sore itu.  "Kok yo pas dino Jum'at, dan gak ngrepoti wong akeh, mugo-mugo iku dadi dalan husnul khotimah e" ibu saya terus melanjutkan ceritanya.


************

Cak Bandi, seorang buruh harian biasa. Tidak pernah mengenyam bangku pendidikan pun tidak memiliki banyak pengetahuan tentang agama. Bahkan boleh dibilang cak Bandi orang yang sangat awam agama. Perjalanan hidupnya sejak kecil banyak dihabiskan untuk bekerja. Bekerja disawah mengembalakan bebek dan juga menjadi buruh harian dirumah alm. Pakde saya. "Cak Bandi itu mulai cilik yo dolan e ambek aku ta. Angon bebek bareng" begitu cerita cak Dul salah satu rekan kerjanya kepada saya. "Yo, cak Bandi ndisek nom - nom ane yo ngomben (mabuk-mabuk an) barang" begitu cak Dul bercerita sambil mengenang masa kecilnya. 

Begitulah mungkin sekilas gambaran masa lalu cak Bandi. Kami sekeluarga sangat tahu, selama bertahun - tahun bekerja dirumah cak Bandi belum pernah terlihat sholat. Urusan sholat adalah urusan masing - masing individu dengan Tuhannya. Begitu mungkin banyak orang perpendapat. Tetapi tetap tak bosan - bosan, keluarga selalu mengingatkan. Meskipun sholat merupakan bagian dari urusan masing-masing pribadi dengan tuhannya, toh, tidak ada salahnya sebagai sesama muslim untuk saling mengingatkan untuk kebaikan, bukan? Tapi entah, hidayah ALLAH itu tidak selalu datang secepat yang kita minta.

Maka tidak heran dan mungkin sekaligus membahagiakan, bila suatu hari tiba - tiba saya mendapatkan cak Bandi melakukan sesuatu hal berbeda dari biasanya. Iya!! dua tahun belakangan sebelum kepergian cak Bandi, saya mendapati beliau dengan penampilan yang rapi dan bersih seperti nampak habis menunaikan sholat diwaktu jam istirahat kerjanya. Sedikit tidak percaya, namun Ibu cerita dari ibu yang kemudian menguatkan kepercayaan saya.

"Alhamdulillah nduk, cak Bandi sudah berubah, sudah mau sholat" begitu penjelasan ibu saya suatu ketika. 

Begitupun pada saat bulan ramadhan tiba. Meskipun sehari - hari tetap bekerja sebagai buruh seperti biasanya, cak Bandi sudah menjalankan ibadah puasa, tidak seperti tahun - tahun sebelumnya. "Alhamdulillah" batin saya. 

Sungguh, kita sebagai manusia biasa tidak pernah tahu perjalanan spiritual masing - masing orang bagaimana. Kita sebagai manusia biasa, tidak pernah memiliki hak untuk menilai baik dan buruknya seseorang bagaimana. Kita sebagai manusia biasa, tidak pernah bisa menebak akhir hidup seseorang atau bahkan akhir hidup kita sendiri akan bagaimana. Dan sungguh sebagai manusia biasa, kita tidak pernah memiliki hak apakah kelak seseorang kelak layak masuk syurgaNya, ataukah nerakaNYA. Yang kita bisa hanyalah saling mengingatkan untuk selalu berada di jalanNYA, sembari terus tanpa henti merefleksi dan memperbaiki diri sendiri. 

Tidak berselang lama setelah masa perubahan itu, ternyata cak Bandi sudah dipanggil kembali kepadaNYA. Waktu yang begitu cepat dan cukup singkat. Tepat dihari Jum'at, menjelang adzan isya' akan dikumandangkan.  

Di hari Jum'at siang, tidak ada firasat apapun bahwa cak Bandi pada akhirnya akan meninggalkan kami semua. Cak Bandi bekerja full time sebagaimana biasanya. Hanya disela - sela bekerja, cak Bandi sesekali mengeluh sakit dadanya. Cak Bandi sudah berkali-kali diminta untuk istirahat saja sama rekan kerjanya. "Gak enak karo Yani aku" begitu kilah cak Bandi. Di sela - sela bekerja, sesekali cak Bandi ke dapur untuk meminta air hangat untuk minum. 

Sore hari menjelang, saatnya semua mengakhiri kerjanya dan bersiap bebersih diri untuk menunaikan sholat ashar. "kedebum" suara keras menandakan adanya benda jatuh. "cak Bandi semaput!" begitu cerita rekan kerjanya. Dan akhirnya cak Bandipun diantar pulang ke rumahnya. "ojo ditinggal moleh disek lek cak Bandi gak wes bener-bener enak an" begitu pesan kakak saya. 

Hingga sesampai dirumahnya, cak Bandi merasa dirinya baik - baik saja. "Wes, tinggalen moleh wes, aku gak popo" begitu permintaan cak Bandi kepada kedua rekan kerja--cak Man dan cak Dul, yang mengantarnya.

Namun, cak Man masih merasa ada yang ganjil dan masih mengkhawatirkan kondisi cak Bandi. Sempat diajak periksa ke puskesmas, namun hasil diagnosa dari puskesmas menyatakan bahwa cak Bandi tidak apa-apa. Saran dari dokter yang memeriksa, cak Bandi cukup diminta untuk istirahat dirumah saja dan akhirnya cak Bandipun dibawa kembali pulang ke rumahnya. Cak Man dan cak Dul,  masih belum merasa enak betul untuk segera pulang meninggalkan cak Bandi karena kondisinya yang masih belum stabil. Kedua rekan kerjanya itu tahu bahwa dirumah itu, cak Bandi hanya tinggal bertiga bersama istri dan satu anak perempuannya. 

Benar apa yang dikhawatirkan oleh cak Man, menjelang isya' cak Bandi kembali pingsan. Cak Bandi pun dipapah oleh cak Man dan cak Dul. Melihat kondisi cak Bandi yang sangat mengkhwatirkan, istrinya meminta putrinya untuk memanggilkan salah satu ustadz yang ada didaerah situ untuk memberikan pertolongan. Tidak lama kemudian sang ustadz pun datang. Entah apa yang membuat ustadz tersebut berinisiatif untuk menuntun cak Bandi mengucap kalimat tauhid. Bacaan pertama, cak Bandi masih sanggup menuntaskannya, bacaan kedua belum tuntas dan cak Bandi pun sudah pergi meninggalkan kami semua untuk selamanya.

Innalillahi wainna ilahi rooji'un..

Sungguh, akhir yang sangat indah. Mendengar ceritanya saya merinding dan berurai air mata, antara sedih dan bahagia. Dan terbersit dalam pikiran saya yang awam "Ya ALLAH, apakah itu tanda-tanda husnul khotimah?". Amalan tersembunyi apakah yang engkau miliki cak, sehingga akhir hidupmu sangat begitu cepat dan begitu indah. Sementara kita yang masih diberi kesempatan untuk hidup dan tinggal di dunia ini, belum tahu bagaimana akhir cerita dan akhir hidup kita kelak. 

Wallahu a'lam bishowab.                                                                                                              Sungguh hanya ALLAH lah yang maha tahu segala urusan antara diriNYA dan hambaNYA.






#MerekamJejak; #PangilingSlira

Translation:

1. "Subhanallah nduk, opo amalan e Bandi iku kiro-kiro? Jan kok penak temen lek ndak onok umure"   [subhanallah nak, apa amalannya Bandi itu kira-kira? kok sungguh enak sekali kalau tutup usia?"]

2. "Kok yo pas dino Jum'at, dan gak ngrepoti wong akeh, mugo-mugo iku dadi dalan husnul khotimah e" [kok ya pas hari Jum'at, dan tidak merepotkan banyak orang, semoga itu menjadi jalanny husnul khotimah]

3. "Cak Bandi itu mulai cilik yo dolan e ambek aku ta. Angon bebek bareng" [cak Bandi itu mulai kecil ya main sama saya, gembalakan bebek bersama]

4. "Yo, cak Bandi ndisek nom - nom ane yo ngomben (mabuk-mabuk an) barang" [ya, cak Bandi dulu masa mudanya ya juga suka mabuk - mabuk an]

5. "cak Bandi semaput!" [Cak Bandi semaput]

6. "ojo ditinggal moleh disek lek cak Bandi gak wes bener-bener enak an" [Jangan ditinggal pulang dulu bila cak Bandi belum benar - benar membaik]

7. "Wes, tinggalen moleh wes, aku gak popo" [Sudah tinggal pulang saja, aku sudah tidak apa-apa]

Jumat, 21 Agustus 2020

Sang dokter Itu..

Cak Bandi, begitu keluarga kami dan rekan-rekan kerjanya memanggilnya. Orang Desa yang belum pernah merasakan yang namanya bangku sekolah. Gelar dokternya diberikan secara honoris causa oleh komunitas peternak bebek karena sering membantu mereka untuk mendiagnosa bebek peliharaanya. "Kalau sudah ketemu cak Bandi, cukup dilihat saja dari jauh sudah tahu mana bebek sehat dan tidak, mana bebek yang rajin bertelur dan bebek yang suka malas-malasan dan maunya hanya makan" begitu abah saman (sesepuh ternak) berkisah. "suruh anakmu belajar ke pakde bandinya" begitu beliau berpesan. 

Masih teringat,  beberapa bulan yang lalu, sempat cak Bandi ingin dioleh-olehkan barang sederhana "cobek" yang kami tidak bisa segera memenuhinya karena seringkali lupa setiap kali pulang ke kampung halaman. Alhamdulillah, beruntung kami masih diberikan kesempatan untuk memenuhinya, meskipun itu belum sesuai dengan harapannya. Istri cak Bandi meminta cobek dari batu yang kecil, sementara kami membawakan cobek yang besar. "Mbakmu mbok kongkon dodol rujak a" begitu candanya pada saya. Dan spontan langsung saya balas" gak papa wes, gawe mantu wiwit marine--putri semata wayangnya yang sudah mulai beranjak dewasa" canda saya, sembari saya meniatkan untuk menuruti keinginannya yang belum terpenuhi--dibelikan cobek ukuran kecil dari kota Malang, kota tempat dimana kami tinggal . 

Bagi saya, cak Bandi itu saudara jauh tetapi memiliki ikatan bathin yang cukup dekat. Kedekatan bathin ini terbangun karena cak Bandi sudah sangat lama ikut bekerja di keluarga kami. Mulai dari usia sekolah dasar, cak Bandi tidak bersekolah tetapi ikut kerja di rumah almarhum pakde saya, hingga disaat kakak saya mulai merintis bisnis bebeknya mulai dari awal. Cak Bandi inilah yang banyak tahu bagaimana jungkir baliknya kakak saya memulai usahanya. 

Disisi lain, cak Bandi ini digemari oleh anak-anak saya. Sering ikut ngemong  anak-anak dikandang bebek dirumah kakak saya, karena kesehariannya memang cak Bandi bekerja disana. Banyak hal sederhana tetapi mengesankan bagi anak-anak saya, yang dilakukan bersama pakde Bandinya (begitu anak saya memanggilnya). Mulai dari cerita tentang bebek, mandi bersama disungai hingga mancing bersama. Tidak jarang, si Uwais, anak pertama saya pulang ke Malang dengan membawa ilmu baru tentang merawat bebek dari pakde Bandinya dengan tanpa melupakan kutipan "kata pakde bandi". Sehingga, tidak heran ketika si sulung anak saya mendengar berita bahwa pakde Bandinya berpulang, diapun menangis tersedu-sedu. Sungguh, bagi kami kesederhanaan dan kesabaran pakde Bandi meninggalkan kesan yang sangat mendalam terutama bagi anak-anak saya. 

Pernah suatu ketika, cak Bandi mendapatkan kesempatan untuk berangkat umroh yang bagi kebanyakan orang, mungkin akan disambut dengan penuh suka cita. Tapi tidak dengan cak Bandi ini. Sebagai orang desa yang awam, cak Bandi menolak demi menghormati keputusan istrinya tanpa melihat apapun alasannya. Cak Bandi rela menolaknya hanya karena tidak mendapatkan izin dari istrinya. Banyak orang yang menyayangkan keputusannya ini. Tetapi bagi cak Bandi, mungkin ini adalah bagian dari caranya mengabdi dan mendekatkan diri pada Tuhannya. Memangkas egonya demi menjaga keutuhan dan kebahagiaan keluarganya terutama istrinya. 

Dan kini cak Bandi, telah pergi untuk selamanya. Sosok yang tidak banyak ditahu, tetapi sesungguhnya banyak berjasa. Tanpa cak Bandi, anak-anak tidak akan pernah memiliki pengalaman dari guru nyata tanpa banyak teori untuk belajar ilmu bebek. Tanpa cak Bandi, mungkin pekerjaan menyortir bebek akan jauh lebih susah. Tanpa cak Bandi, mungkin...., tanpa cak Bandi, mungkin... dan banyak kemungkinan - kemungkinan lainnya yang tidak bisa kami lakukan sendiri. Cak Bandi, bagian kecil dari keluarga kami yang sesungguhnya memiliki peran luar biasa. 

Dari cak Bandi, saya belajar untuk menghargai waktu dan menyegerakan niat baik karena kita tidak akan pernah tahu kapan saatnya untuk kita atau saudara kembali pulang. Bisa saja malaikat menjemput kita atau saudara kita dengan sangat tiba-tiba. Tanpa permisi, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Andaikan saat itu, saya masih tetap lupa (abai) tidak membelikan cobek untuk istrinya, tentu ini akan menjadi ganjalan dihati saya. "Cobek" permintaan yang sangat sederhana, tetapi mungkin akan menjadi penyesalan tersendiri disepanjang hidup saya. 

Dari cak Bandi, saya belajar untuk menjadi sederhana dan menjadi tulus karena dari dulu hingga maut menjemput,  cak Bandi tidak pernah neko-neko ya tetap begitu-begitu saja. Posisinya sebagai orang yang paling senior ditempat kerja, tidak lantas menjadikan dirinya menjadi superior bagi sesama rekan kerjanya. Demikian juga, meskipun banyak orang telah dibantu, cak Bandi tidak pernah mengungkit-ngungkitnya. Cak Bandi dengan ke-awaman-nya, tidak pernah menjadikan dirinya sebagai "Tuhan" yang mampu merubah nasib seseorang. Satu kalipun saya tidak pernah mendengar kata "kalau bukan karena AKU, pasti dia tidak akan bisa...." yang terucap dari cak Bandi meskipun banyak hal yang telah dilakukan untuk membantu banyak para peternak. 

Dari cak Bandi, saya belajar tentang fokus dan menjadi utun. Karena keahlian yang dimilikinya dalam dunia bebek bukan karena cak Bandi pernah duduk dibangku sekolah. Pengalaman dan istiqomahlah yang menempanya. Semenjak awal belajar kerja, cak Bandi ikut almarhum pakde saya yang juga seorang peternak sekaligus pedagang bebek. Ketika pakde sudah berpulang mendahului kami semua, cak Bandi berpindah kerja ikut kakak saya yang juga seorang peternak dan pedagang bebek. Maka tidak heran jika cak Bandi sangat ahli dalam mengatasi persoalan yang peternak hadapi. 

Trimakasih cak Bandi, Adamu banyak membantu dan tiadamu banyak meninggalkan kenangan dan juga ilmu. 

Selamat jalan Sang dokter, semoga tempat terbaik disisiNYA sudah disiapkan untukmu.. 

Lahul faathihah...


#MerekamJejak; #RefleksiDiri; #PangilingSlira