ulil fitriyah

Kamis, 24 September 2020

Aku, Kamu, DIA dan KITA..

 




Kalau bukan karena DIA, 

.

KITA, tidak akan pernah ada

.

saat ini

.

hingga nanti


Terimakasih sudah mendampingi 

.

dan ikhlas dengan adanya diri

.

KITA sama, hanya karena DIA

.

Itu saja!! 

.

"TITIK"

.

tanpa jeda, tanpa koma. 


#ElevenYears

#Grateful


**************************



Bahagia saja?! 

Itu syurga!


Duka saja?! 

Itu Neraka!


Sementara kita? Masih di dunia! 

Dimana bahagia dan Duka, datang silih berganti. 

Dan itulah warna


Baik saja?! 

Itu Malaikat


Buruk saja?! 

Itu Makhluk lainnya


Sementara kita?! Manusia!

Baik dan buruk?!kita berpunya. 

.

Dan 

.

Aku, 

Kamu,

Hadir menjadi satu, untuk saling melengkapi

Segala yang tidak sempurna.


25 September 2009 - 25 September 2020


#MerekamJejak

Selasa, 22 September 2020

Inikah Sebuah Tanda? (Sang Dokter Itu: Part 2)

 Sabtu, 23 Agustus 2020

Sepulang takziyah, ibuku menelponku. Maklum, aku sendiri tidak bisa mengikuti acara pemakaman cak Bandi langsung pada hari H, karena posisiku yang berada dikota yang berbeda. Aku dan suamiku merencanakan pulang beberapa hari lagi ke kampung halamanku, setelah semua tanggung jawab yang ada dirumah kami tuntaskan semua. "Sambang Ibu sekalian nanti takziyah ke keluarga cak Bandi" begitu kata suamiku.

Dan sore itu, sembari melepaskan penat Ibu memulai kisahnya. Menceritakan bagaimana kronologi kejadian awal cak Bandi mulai merasakan sakit kepala hebat sampai tak mampu lagi menahannya, hingga pada akhirnya malaikat maut menjemputnya dengan begitu indah sehingga membuat iri kami sekeluarga. 

"Subhanallah nduk, opo amalan e Bandi iku kiro-kiro? Jan kok penak temen lek ndak onok umure" Begitu ibu memulai ceritanya melalui telpon sore itu.  "Kok yo pas dino Jum'at, dan gak ngrepoti wong akeh, mugo-mugo iku dadi dalan husnul khotimah e" ibu saya terus melanjutkan ceritanya.


************

Cak Bandi, seorang buruh harian biasa. Tidak pernah mengenyam bangku pendidikan pun tidak memiliki banyak pengetahuan tentang agama. Bahkan boleh dibilang cak Bandi orang yang sangat awam agama. Perjalanan hidupnya sejak kecil banyak dihabiskan untuk bekerja. Bekerja disawah mengembalakan bebek dan juga menjadi buruh harian dirumah alm. Pakde saya. "Cak Bandi itu mulai cilik yo dolan e ambek aku ta. Angon bebek bareng" begitu cerita cak Dul salah satu rekan kerjanya kepada saya. "Yo, cak Bandi ndisek nom - nom ane yo ngomben (mabuk-mabuk an) barang" begitu cak Dul bercerita sambil mengenang masa kecilnya. 

Begitulah mungkin sekilas gambaran masa lalu cak Bandi. Kami sekeluarga sangat tahu, selama bertahun - tahun bekerja dirumah cak Bandi belum pernah terlihat sholat. Urusan sholat adalah urusan masing - masing individu dengan Tuhannya. Begitu mungkin banyak orang perpendapat. Tetapi tetap tak bosan - bosan, keluarga selalu mengingatkan. Meskipun sholat merupakan bagian dari urusan masing-masing pribadi dengan tuhannya, toh, tidak ada salahnya sebagai sesama muslim untuk saling mengingatkan untuk kebaikan, bukan? Tapi entah, hidayah ALLAH itu tidak selalu datang secepat yang kita minta.

Maka tidak heran dan mungkin sekaligus membahagiakan, bila suatu hari tiba - tiba saya mendapatkan cak Bandi melakukan sesuatu hal berbeda dari biasanya. Iya!! dua tahun belakangan sebelum kepergian cak Bandi, saya mendapati beliau dengan penampilan yang rapi dan bersih seperti nampak habis menunaikan sholat diwaktu jam istirahat kerjanya. Sedikit tidak percaya, namun Ibu cerita dari ibu yang kemudian menguatkan kepercayaan saya.

"Alhamdulillah nduk, cak Bandi sudah berubah, sudah mau sholat" begitu penjelasan ibu saya suatu ketika. 

Begitupun pada saat bulan ramadhan tiba. Meskipun sehari - hari tetap bekerja sebagai buruh seperti biasanya, cak Bandi sudah menjalankan ibadah puasa, tidak seperti tahun - tahun sebelumnya. "Alhamdulillah" batin saya. 

Sungguh, kita sebagai manusia biasa tidak pernah tahu perjalanan spiritual masing - masing orang bagaimana. Kita sebagai manusia biasa, tidak pernah memiliki hak untuk menilai baik dan buruknya seseorang bagaimana. Kita sebagai manusia biasa, tidak pernah bisa menebak akhir hidup seseorang atau bahkan akhir hidup kita sendiri akan bagaimana. Dan sungguh sebagai manusia biasa, kita tidak pernah memiliki hak apakah kelak seseorang kelak layak masuk syurgaNya, ataukah nerakaNYA. Yang kita bisa hanyalah saling mengingatkan untuk selalu berada di jalanNYA, sembari terus tanpa henti merefleksi dan memperbaiki diri sendiri. 

Tidak berselang lama setelah masa perubahan itu, ternyata cak Bandi sudah dipanggil kembali kepadaNYA. Waktu yang begitu cepat dan cukup singkat. Tepat dihari Jum'at, menjelang adzan isya' akan dikumandangkan.  

Di hari Jum'at siang, tidak ada firasat apapun bahwa cak Bandi pada akhirnya akan meninggalkan kami semua. Cak Bandi bekerja full time sebagaimana biasanya. Hanya disela - sela bekerja, cak Bandi sesekali mengeluh sakit dadanya. Cak Bandi sudah berkali-kali diminta untuk istirahat saja sama rekan kerjanya. "Gak enak karo Yani aku" begitu kilah cak Bandi. Di sela - sela bekerja, sesekali cak Bandi ke dapur untuk meminta air hangat untuk minum. 

Sore hari menjelang, saatnya semua mengakhiri kerjanya dan bersiap bebersih diri untuk menunaikan sholat ashar. "kedebum" suara keras menandakan adanya benda jatuh. "cak Bandi semaput!" begitu cerita rekan kerjanya. Dan akhirnya cak Bandipun diantar pulang ke rumahnya. "ojo ditinggal moleh disek lek cak Bandi gak wes bener-bener enak an" begitu pesan kakak saya. 

Hingga sesampai dirumahnya, cak Bandi merasa dirinya baik - baik saja. "Wes, tinggalen moleh wes, aku gak popo" begitu permintaan cak Bandi kepada kedua rekan kerja--cak Man dan cak Dul, yang mengantarnya.

Namun, cak Man masih merasa ada yang ganjil dan masih mengkhawatirkan kondisi cak Bandi. Sempat diajak periksa ke puskesmas, namun hasil diagnosa dari puskesmas menyatakan bahwa cak Bandi tidak apa-apa. Saran dari dokter yang memeriksa, cak Bandi cukup diminta untuk istirahat dirumah saja dan akhirnya cak Bandipun dibawa kembali pulang ke rumahnya. Cak Man dan cak Dul,  masih belum merasa enak betul untuk segera pulang meninggalkan cak Bandi karena kondisinya yang masih belum stabil. Kedua rekan kerjanya itu tahu bahwa dirumah itu, cak Bandi hanya tinggal bertiga bersama istri dan satu anak perempuannya. 

Benar apa yang dikhawatirkan oleh cak Man, menjelang isya' cak Bandi kembali pingsan. Cak Bandi pun dipapah oleh cak Man dan cak Dul. Melihat kondisi cak Bandi yang sangat mengkhwatirkan, istrinya meminta putrinya untuk memanggilkan salah satu ustadz yang ada didaerah situ untuk memberikan pertolongan. Tidak lama kemudian sang ustadz pun datang. Entah apa yang membuat ustadz tersebut berinisiatif untuk menuntun cak Bandi mengucap kalimat tauhid. Bacaan pertama, cak Bandi masih sanggup menuntaskannya, bacaan kedua belum tuntas dan cak Bandi pun sudah pergi meninggalkan kami semua untuk selamanya.

Innalillahi wainna ilahi rooji'un..

Sungguh, akhir yang sangat indah. Mendengar ceritanya saya merinding dan berurai air mata, antara sedih dan bahagia. Dan terbersit dalam pikiran saya yang awam "Ya ALLAH, apakah itu tanda-tanda husnul khotimah?". Amalan tersembunyi apakah yang engkau miliki cak, sehingga akhir hidupmu sangat begitu cepat dan begitu indah. Sementara kita yang masih diberi kesempatan untuk hidup dan tinggal di dunia ini, belum tahu bagaimana akhir cerita dan akhir hidup kita kelak. 

Wallahu a'lam bishowab.                                                                                                              Sungguh hanya ALLAH lah yang maha tahu segala urusan antara diriNYA dan hambaNYA.






#MerekamJejak; #PangilingSlira

Translation:

1. "Subhanallah nduk, opo amalan e Bandi iku kiro-kiro? Jan kok penak temen lek ndak onok umure"   [subhanallah nak, apa amalannya Bandi itu kira-kira? kok sungguh enak sekali kalau tutup usia?"]

2. "Kok yo pas dino Jum'at, dan gak ngrepoti wong akeh, mugo-mugo iku dadi dalan husnul khotimah e" [kok ya pas hari Jum'at, dan tidak merepotkan banyak orang, semoga itu menjadi jalanny husnul khotimah]

3. "Cak Bandi itu mulai cilik yo dolan e ambek aku ta. Angon bebek bareng" [cak Bandi itu mulai kecil ya main sama saya, gembalakan bebek bersama]

4. "Yo, cak Bandi ndisek nom - nom ane yo ngomben (mabuk-mabuk an) barang" [ya, cak Bandi dulu masa mudanya ya juga suka mabuk - mabuk an]

5. "cak Bandi semaput!" [Cak Bandi semaput]

6. "ojo ditinggal moleh disek lek cak Bandi gak wes bener-bener enak an" [Jangan ditinggal pulang dulu bila cak Bandi belum benar - benar membaik]

7. "Wes, tinggalen moleh wes, aku gak popo" [Sudah tinggal pulang saja, aku sudah tidak apa-apa]

Jumat, 21 Agustus 2020

Sang dokter Itu..

Cak Bandi, begitu keluarga kami dan rekan-rekan kerjanya memanggilnya. Orang Desa yang belum pernah merasakan yang namanya bangku sekolah. Gelar dokternya diberikan secara honoris causa oleh komunitas peternak bebek karena sering membantu mereka untuk mendiagnosa bebek peliharaanya. "Kalau sudah ketemu cak Bandi, cukup dilihat saja dari jauh sudah tahu mana bebek sehat dan tidak, mana bebek yang rajin bertelur dan bebek yang suka malas-malasan dan maunya hanya makan" begitu abah saman (sesepuh ternak) berkisah. "suruh anakmu belajar ke pakde bandinya" begitu beliau berpesan. 

Masih teringat,  beberapa bulan yang lalu, sempat cak Bandi ingin dioleh-olehkan barang sederhana "cobek" yang kami tidak bisa segera memenuhinya karena seringkali lupa setiap kali pulang ke kampung halaman. Alhamdulillah, beruntung kami masih diberikan kesempatan untuk memenuhinya, meskipun itu belum sesuai dengan harapannya. Istri cak Bandi meminta cobek dari batu yang kecil, sementara kami membawakan cobek yang besar. "Mbakmu mbok kongkon dodol rujak a" begitu candanya pada saya. Dan spontan langsung saya balas" gak papa wes, gawe mantu wiwit marine--putri semata wayangnya yang sudah mulai beranjak dewasa" canda saya, sembari saya meniatkan untuk menuruti keinginannya yang belum terpenuhi--dibelikan cobek ukuran kecil dari kota Malang, kota tempat dimana kami tinggal . 

Bagi saya, cak Bandi itu saudara jauh tetapi memiliki ikatan bathin yang cukup dekat. Kedekatan bathin ini terbangun karena cak Bandi sudah sangat lama ikut bekerja di keluarga kami. Mulai dari usia sekolah dasar, cak Bandi tidak bersekolah tetapi ikut kerja di rumah almarhum pakde saya, hingga disaat kakak saya mulai merintis bisnis bebeknya mulai dari awal. Cak Bandi inilah yang banyak tahu bagaimana jungkir baliknya kakak saya memulai usahanya. 

Disisi lain, cak Bandi ini digemari oleh anak-anak saya. Sering ikut ngemong  anak-anak dikandang bebek dirumah kakak saya, karena kesehariannya memang cak Bandi bekerja disana. Banyak hal sederhana tetapi mengesankan bagi anak-anak saya, yang dilakukan bersama pakde Bandinya (begitu anak saya memanggilnya). Mulai dari cerita tentang bebek, mandi bersama disungai hingga mancing bersama. Tidak jarang, si Uwais, anak pertama saya pulang ke Malang dengan membawa ilmu baru tentang merawat bebek dari pakde Bandinya dengan tanpa melupakan kutipan "kata pakde bandi". Sehingga, tidak heran ketika si sulung anak saya mendengar berita bahwa pakde Bandinya berpulang, diapun menangis tersedu-sedu. Sungguh, bagi kami kesederhanaan dan kesabaran pakde Bandi meninggalkan kesan yang sangat mendalam terutama bagi anak-anak saya. 

Pernah suatu ketika, cak Bandi mendapatkan kesempatan untuk berangkat umroh yang bagi kebanyakan orang, mungkin akan disambut dengan penuh suka cita. Tapi tidak dengan cak Bandi ini. Sebagai orang desa yang awam, cak Bandi menolak demi menghormati keputusan istrinya tanpa melihat apapun alasannya. Cak Bandi rela menolaknya hanya karena tidak mendapatkan izin dari istrinya. Banyak orang yang menyayangkan keputusannya ini. Tetapi bagi cak Bandi, mungkin ini adalah bagian dari caranya mengabdi dan mendekatkan diri pada Tuhannya. Memangkas egonya demi menjaga keutuhan dan kebahagiaan keluarganya terutama istrinya. 

Dan kini cak Bandi, telah pergi untuk selamanya. Sosok yang tidak banyak ditahu, tetapi sesungguhnya banyak berjasa. Tanpa cak Bandi, anak-anak tidak akan pernah memiliki pengalaman dari guru nyata tanpa banyak teori untuk belajar ilmu bebek. Tanpa cak Bandi, mungkin pekerjaan menyortir bebek akan jauh lebih susah. Tanpa cak Bandi, mungkin...., tanpa cak Bandi, mungkin... dan banyak kemungkinan - kemungkinan lainnya yang tidak bisa kami lakukan sendiri. Cak Bandi, bagian kecil dari keluarga kami yang sesungguhnya memiliki peran luar biasa. 

Dari cak Bandi, saya belajar untuk menghargai waktu dan menyegerakan niat baik karena kita tidak akan pernah tahu kapan saatnya untuk kita atau saudara kembali pulang. Bisa saja malaikat menjemput kita atau saudara kita dengan sangat tiba-tiba. Tanpa permisi, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Andaikan saat itu, saya masih tetap lupa (abai) tidak membelikan cobek untuk istrinya, tentu ini akan menjadi ganjalan dihati saya. "Cobek" permintaan yang sangat sederhana, tetapi mungkin akan menjadi penyesalan tersendiri disepanjang hidup saya. 

Dari cak Bandi, saya belajar untuk menjadi sederhana dan menjadi tulus karena dari dulu hingga maut menjemput,  cak Bandi tidak pernah neko-neko ya tetap begitu-begitu saja. Posisinya sebagai orang yang paling senior ditempat kerja, tidak lantas menjadikan dirinya menjadi superior bagi sesama rekan kerjanya. Demikian juga, meskipun banyak orang telah dibantu, cak Bandi tidak pernah mengungkit-ngungkitnya. Cak Bandi dengan ke-awaman-nya, tidak pernah menjadikan dirinya sebagai "Tuhan" yang mampu merubah nasib seseorang. Satu kalipun saya tidak pernah mendengar kata "kalau bukan karena AKU, pasti dia tidak akan bisa...." yang terucap dari cak Bandi meskipun banyak hal yang telah dilakukan untuk membantu banyak para peternak. 

Dari cak Bandi, saya belajar tentang fokus dan menjadi utun. Karena keahlian yang dimilikinya dalam dunia bebek bukan karena cak Bandi pernah duduk dibangku sekolah. Pengalaman dan istiqomahlah yang menempanya. Semenjak awal belajar kerja, cak Bandi ikut almarhum pakde saya yang juga seorang peternak sekaligus pedagang bebek. Ketika pakde sudah berpulang mendahului kami semua, cak Bandi berpindah kerja ikut kakak saya yang juga seorang peternak dan pedagang bebek. Maka tidak heran jika cak Bandi sangat ahli dalam mengatasi persoalan yang peternak hadapi. 

Trimakasih cak Bandi, Adamu banyak membantu dan tiadamu banyak meninggalkan kenangan dan juga ilmu. 

Selamat jalan Sang dokter, semoga tempat terbaik disisiNYA sudah disiapkan untukmu.. 

Lahul faathihah...


#MerekamJejak; #RefleksiDiri; #PangilingSlira

Rabu, 17 Agustus 2016

Mari Memasak Tulisan !!


Grrrrhhhh... Lama sudah tidak menulis, lama sudah tidak produktif. Padahal ide untuk menulis dengan Topik ini sudah lama tersimpan di kelapa, eh Kepala *Maaf.. efek lama tidak berceloteh!! Grrrgghh.. :-((

Pada saat mengikuti acara workshop kepenulisan dan publikasi karya ilmiah untuk jurnal internasional, tuan rumah penyelenggara kegiatan menyelingi kegiatan dengan acara masak memasak, yang kebetulan nara sumber utama juga sekaligus sebagai chef nya. Di saat acara masak memasak tersebut berlangsung, salah seorang peserta nyelutuk berbisik kepada saya: "apa kaitannya antara kegiatan tulis menulis dengan masak memasak? kok ada workshop kepenulisan diselingi acara masak masak?"

Ahaa!!! jangan salah! bagi saya antara kegiatan tulis menulis, dan masak memasak ada kaitannya. Penasaran??? mari kita lanjutkan! Ready..??? 1....2...3!!!

Saya sangat ngefans dengan buku yang ditulis oleh Hernowo dengan judul "andaikan buku itu sepotong Pizza" (yang lain boleh tidak suka kok... heheh). Dalam buku ini, Hernowo (menurut saya) dengan sangat cerdas mampu mengiming imingi saya untuk rakus dengan buku yang dia ibaratkan sebagai makanan. Menurut dia, tak ubahnya dengan perut, otak kita juga perlu dengan makanan. Nah! makanan dari otak kita itulah buku bacaan. hmmmmm.. untuk lebih lengkapnya, silahkan baca bukunya sendiri saja ya?? yang jelas buku karya Hernowo inilah yang lantas mampu merubah cara pandang saya terhadap buku, artikel atau bacaan apapun, sehingga terkadang saya selalu merasa lapar dibuatnya. :-))

Bila Hernowo mengibaratkan buku itu bagai makanan, maka saya mengibaratkan menulis itu bagai memasak. Bagaimana bisa?? mari kita bahas satu persatu.

Yang pertama, sebelum memasak tentunya kita perlu menyiapkan bahan. Biasanya dalam menyiapkan bahan tersebut, kita perlu belanja ke Pasar atau ke toko atau entah kemana lah, bahkan jaman sekarang, bisa belanja via online! Begitu juga dalam menulis guys! Bagaimana kita bisa menulis bila tidak punya bahan untuk menulis? dan apa bahan untuk menulis itu? Bahan untuk kita dalam mempersiapkan tulisan adalah BACAAN! iya! dengan cara banyak membaca kita akan banyak mendapatkan bahan untuk sebuah tulisan, yang tentunya perpustakaan merupakan pasar untuk belanja bahan - bahan untuk tulisan kita.

Setelah kita belanja bahan, tentunya kita tidak akan langsung memasaknya bukan? kita butuh untuk memilah dan memilih, mengupas atau mencincang dan membersihkannya. Demikian juga dalam menulis, dari semua bahan yang telah kita baca, tentu tidak semua bisa kita masukkan dalam tulisan kita. Kita perlu menyaring, membandingkan dengan bahan bacaan lain, merangkum, menyesuaikan bahan dengan topik yang akan kita tulis, hingga bahan - bahan benar - benar siap untuk kita olah.
She is not me, of course.. :-D

Nah, bila semua bahan sudah siap, saatnya kita memasak tulisan kita. Dalam memasak, tidak semua bahan langsung kita masukkan begitu saja. Bisa juga siiih sebenarnya dengan ilmu masak yang ngawur kita langsung main cemplang-cemplung begitu saja (seperti saya biasanya kalau masak... hihihi). Tapi, sekarang pilihan ada ditangan anda, apakah anda ingin menyajikan makanan yang asal jadi, asal ada rasa garamnya? atau anda akan memasak makanan yang penuh dengan cita rasa yang diolah dengan penuh rasa cinta? Daaan tentunya, akan menyajikan hasil masakan yang berbeda. Begitu juga dengan menulis, bila sebuah tulisan diolah dengan pas, dengan pemilihan bahasa yang tepat sesuai dengan target pembaca, maka tulisan kita akan menghasilkan cita rasa yang pas yang dapat dinikmati oleh pembaca dengan penuh suka cita (ceileee....).

Tahap akhir adalah tahap penyajian. Dalam menyajikan sebuah tulisan kita perlu juga memberikan garnish yang dalam hal ini adalah judul. Memilih judul yang tepat nan menawan dan mengundang penasaran, akan mengundang selera pembaca untuk segera menyantap tulisan kita. Sudah menjadi tabiat manusia yang selalu tertawan dengan apa yang nampak dipermukaan. Maka berkreasilah dengan garnish tulisan anda yang tentunya dengan mempertimbangkan pembaca yang akan anda targetkan.

Daaan sekarang trerereeeng!!! hidangan tulisan anda siap untuk disajikan!

But, yang perlu menjadi catatan paaling awal dari proses masak memasak adalah anda ingin menyajikan masakan apa? Main menu, desert atau snack? Hal tersebut akan membutuhkan bahan, proses masak, dan durasi waktu yang berbeda tentunya... :-))

Akhirul kalam.... Selamat menikmati hidangan dari saya dan selamat memasak tulisan ;-)






 


Jumat, 29 Agustus 2014

"Tuntut" vs "Tuntun": Beda Tipis Pengaruh Luar Biasa


Tidak banyak dari kita yang memberikan perhatian terhadap perbedaan istilah kedua kata tersebut. Tapi coba sedikit kita luangkan waktu sejenak untuk memikirkan makna kedua istilah tersebut beserta maknanya, terutama bagi para orang tua ataupun pendidik dalam berkomunikasi dengan anak - anaknya atau peserta didiknya.

Bila kita hitung, secara tidak sadar berapa kali kita telah berbicara “jangan ini”, “jangan itu”, “kamu harus ini”, “kamu harus begitu” kepada anak - anak kita?
Secara tidak sadar berulang - ulang istilah itu kita ucapkan kepada anak - anak kita. Tujuan kita, sebagai orang tua sebenarnya tidaklah salah, yaitu demi kebaikan anaknya. Namun, apakah cara kita menyampaikannya sudah benar? itulah masalahnya.

Sebagai contoh, ketika anak - anak kita bermain berlarian di tempat yang sekiranya membahayakan bagi mereka, secara spontan kita akan bilang “Jangan berlarian, nanti jatuh” atau terkadang terhadap anak gadis kita yang pulangnya sedikit larut malam, tidak jarang dari kita langsung mengomel dan secara tidak sadar kita akan bilang “jangan pulang malam” atau “kamu harus begini atau begitu”. Begitu pula mengenai prestasi anak di sekolah, banyak diantara kita yang menuntut anak - anak kita untuk rajin belajar, rajin membaca atau rajin untuk mengikuti kegiatan ini itu agar berprestasi di sekolah.

Kedua kata “jangan” dan “harus” tersebut,  juga tidak dapat dihindari sering kita dengar di ruang - ruang kelas mulai dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Pada tingkat dasar misalnya, entah berapa kali seorang guru mengatakan “kamu harus mengerjakan PR!” lebih parah lagi, guru akan menyertainya dengan nada ancaman “bila tidak, maka…….”. Hal serupa juga tidak jarang kita temui juga ditingkat level perguruan tinggi. Seringkali kita menemukan dosen yang mengatakan “bila ingin lulus mata kuliah, kalian HARUS…….”
Hal seperti ini nampaknya sepele, namun bila kita kaji lebih jauh, kedua kata “Jangan” dan “Harus” secara tidak sadar akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan otak dan bahkan perkembangan psikologi anak. Kata “jangan” atau kata “harus” yang seringkali kita ucapkan terhadap anak - anak kita merupakan salah satu bentuk dari pelecehan secara emosional (emotional abuse) terhadap mereka. Secara tidak sadar, dengan menggunakan kata - kata “jangan” kita membatasi ruang gerak dan kreatifitas anak - anak. Hal ini lebih diperparah bila kata “jangan” tersebut disertai dengan nada tinggi. Selain membatasi kreatifitas anak, hal ini juga akan memberikan dampak terhadap hilangnya rasa percaya diri dan menimbulkan rasa takut  atau khawatir karena mereka merasa terancam. Demikian pula dengan kata “harus”. Kita sebagai orang tua ataupun pendidik secara tidak langsung ikut berkontribusi menanamkan mental “penuntut” terhadap anak - anak kita, dan lebih parahnya mental “pengancam”.

Senada dengan hal ini,   Reasoners & Lane (2007: 34) mengatakan bahwa “anak - anak dibawah usia 3 tahun sangat sensitif terhadap apa yang dikatakan oleh orang tuanya”. Lebih jauh lagi mereka juga mengatakan bahwa “apa yang diterima oleh anak - anak akan memberikan dampak yang cukup besar terhadap mereka ketika dewasa kelak”. Maka jika mereka sering mendapatkan ancaman, maka tidaklah heran jika kelak sudah mereka lebih suka mengancam. Begitu pula, jika mereka sering mendapatkan “tuntutan” maka tidak heran jika kelak mereka menjadi pribadi yang “penuntut”, dan demikian pula jika mereka seringkali dilarang, maka tidak menutup kemungkinan tumbuhlah rasa khawatir yang berlebihan atau dengan kata lain hilangnya rasa kepercayaan pada diri mereka sendiri.

Lantas, bagaimana seharusnya menjadi orang tua atau pendidik?
Menurut Dr. Burstlen yang dikutip oleh Irawati Istiadi dalam bukunya “Mendidik dengan Cinta” mengatakan bahwa sebaiknya orang tua mengingatkan anak dengan penuh kasih sayang walaupun mereka dalam posisi yang salah.  Daripada menggunakan kata “jangan”, lebih baik diberikan alternatif pilihan. Bila anak kita masih kecil, kita dapat mengalihkan perhatiannya terhadap hal yang lain. Misalkan, ketika seorang anak menaiki sebuah kursi yang dirasa cukup membahayakan, sebaiknya orang tua atau pendidik lainnya mencarikan permainan lain yang lebih menarik sehingga dengan penuh kesadaran yang muncul dari dalam dirinya sendiri anak turun dari kursi tersebut. Dengan demikian kita secara halus “menuntun” anak kita untuk menghindari sesuatu yang membahayakan dirinya.

Demikian pula dengan kata “harus”. Daripada membuang energi untuk selalu mengingatkan anaknya agar “kamu harus gini atau harus gitu”, sebaiknya orang tua memberikan contoh terhadap anak - anaknya. Bagaimana anak mau membaca dan giat belajar, bila anak tidak pernah melihat ibu ataupun ayahnya membaca dan belajar? bagaimana anak mau pergi sholat bila anak tidak pernah melihat orang tuanya sholat? Bagaimana anak mau berprestasi di sekolah, jika orang tua tidak semangat mengukir prestasi dalam hidupnya?

Selain memberikan contoh, orang tua juga dapat memberikan pertimbangan - pertimbangan atau pemahaman dan mengajak anak - anaknya untuk berpikir akan dampak positif dan negatif terhadap apa yang dilakukan. Sehingga, alih - alih hanya sekedar memenuhi tuntutan orang tua, dengan tuntunan yang kita berikan, anak - anak melakukan apa yang kita inginkan dengan kesadaran yang tumbuh dari pemikiran mereka sendiri.
Dengan demikian, menjadi orang tua penuntut atau penuntun? sedikit berbeda dalam penulisan kata, beda dalam makna namun memiliki pengaruh yang luar biasa dalam perkembangan psikologi anak - anak kita dan masa depannya.
Wallahu a’lam bishawab.

*Re-post from: http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/25/tuntut-vs-tuntun-beda-tipis-pengaruh-luar-biasa-622741.html (Posted on December 25, 2013)


Ospek: Belajar dari negeri sebrang

Membaca berita - berita mengenai ospek yang ujung - ujungnya berakhir pada kekerasan fisik, jadi menggelitik saya untuk ikut berbagi pengalaman mengenai masa orientasi MABA. Hal ini dengan harapan semoga di tahun - tahun mendatang sudah tidak ada lagi model ospek ataupun osjur– ataupun apalah namanya itu, yang penting soal orientasi mahasiswa baru, yang hanya menggunakan fisik dengan mengatas namakan ‘pembentukan karakter'.

Dari cerita ke cerita yang saya dapatkan, kejadian seperti ini tidak hanya menimpa di satu kampus saja. Bahkan, bila kita mau telusuri hampir semua (red–bukan semua) kampus melakukan hal yang sama. Bila tidak percaya, mari kita tanya masing - masing mantan mahasiswa angkatan lama dulu, bagaimana pengalaman orientasi MABA mereka. Pasti beragam cerita mengerikan yang kadang dianggap menarik bermunculan. Salah satu contoh cerita yang mungkin hingga sekarang masih sering kita dengar adalah cerita ‘jeritan malam’. Padahal bila kita mau berpikir lagi, tidak semua peserta memiliki ketahanan fisik dan mental yang sama. Ada peserta yang memang kuat dengan udara malam yang dingin, dan mungkin pula ada yang tidak. Ada peserta yang memang kuat tidak tidur bahkan hingga beberapa malam, tapi ada juga peserta yang tidak terbiasa dengan hal tersebut. Belum lagi tantangan menghadapi panitia ospek. Ada peserta yang memang kuat dan tahan banting dengan bentakan orang lain, ada juga yang memang tidak terbiasa dengan hal tersebut. Maka, tidak heran bila pada akhirnya, banyak kejadian orientasi MABA harus memakan korban baik itu yang bersifat ringan maupun hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Hal seperti ini juga pernah saya alami ketika saya akan bergabung dengan salah satu kegiatan ekstra, yang salah satu persyaratannya adalah mengikuti kegiatan orientasi. Dalam kegiatan tersebut, saya diminta untuk berjalan ditengah malam yang cukup melelahkan tanpa diijinkan untuk membawa sebotol minuman pun. Dan mendekati pos terakhir, saya ditawarkan minuman. Dan untungnya saya tahan untuk tidak minum dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga saya menolak minuman yang ditawarkan oleh panitia tersebut. Setelah kegiatan selesai, saya tanya kepada teman - teman yang lain yang menerima tawaran minuman tersebut. Ternyata minuman yang ditawarkan tersebut adalah air laut. Entah apa tujuan panitia memberikan minuman air laut kepada peserta orientasi tersebut.

Lain cerita dengan saya, salah seorang teman dari universitas yang berbeda, bercerita mengenai pengalamannya ketika masa orientasi. Dalam orientasi tersebut, peserta lelaki diminta oleh panitia untuk tengkurap, sementara seluruh peserta wanita diminta untuk menginjak peserta lelaki. Bila peserta wanita menolak, maka mereka akan mendapatkan hukuman dari panitia. Sontak, peserta wanita yang lain yang tidak ingin mendapatkan hukuman dari panitia, meminta seluruh peserta untuk melaksanakan perintah dari panitia. Dalam kondisi seperti ini, peserta hanya dihadapkan pada dua pilihan: MELAKSANAKAN atau MENDAPAT HUKUMAN. Lagi - lagi yang patut kita pertanyakan TUJUANNYA APA?

Hal lain lagi yang mungkin tidak asing bagi kita adalah permintaan yang aneh - aneh dari panitia. Misalnya, meminta membawa tas dari karton, kardus atau dari bahan lain yang kadang tidak bisa dicerna dengan akal kita dengan dalih melatih kreativitas dan mental peserta. Lagi - lagi, alih - alih melatih kreativitas peserta, panitia malah bekerja sama dengan pedagang untuk menyediakan keperluan yang ANEH - ANEH tersebut dengan dalih memudahkan peserta. Di luar kampus, para pedagang sudah siap dengan dagangan pernak - pernik yang dibutuhkan oleh peserta kegiatan ospek.

Sedikit berbagi pengalaman dengan tidak bermaksud mengagungkan bahwa “LUAR NEGERI” itu yang “WAH”!, saya pernah mengikuti masa orientasi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi luar negeri, dan pernah juga terlibat sebagai volunteer pada kegiatan tersebut. Dalam masa orientasi mahasiswa baru tersebut–yang biasanya disebut dengan “O-week” tidak sedikitpun saya temui peserta diminta untuk melakukan atau menyediakan hal - hal yang kadang susah dicerna oleh akal. Mahasiswa benar - benar diperlakukan secara manusiawi. Memakai baju bebas sebagaimana adanya, tanpa harus diberi embel - embel apa - apa. Alih - alih diminta membawa tas yang nyleneh, mahasiswa diberi “satchel” (tas) kampus yang berisikan buku - buku panduan kehidupan dikampus dan dikota tersebut, buku panduan belajar dikampus dan berisi lembaran informasi penting lainnya. Bahkan saya menemukan lembaran peta kampus serta informasi mengenai alat transportasi umum yang bisa saya gunakan untukmenuju kampus dan tempat - tempat umum lainnya.

Mengenai kegiatan selama seminggu dalam O-week, saya sama sekali tidak menemukan adanya cerita guling - guling ke tanah. Makan 1 permen untuk bersama atau 1 botol minuman untuk beberapa peserta, atau bahkan saya tidak menemukan sama sekali kegiatan yang mengharuskan saya berjemur di terik matahari. Yang saya temukan dalam kegiatan seminggu tersebut adalah: campus tour, library tour, seminar tentang safety–yang bahkan tidak tanggung - tanggung seminar ttg safety ini pematerinya didatangkan dari kepolisian dan petugas pemadam kebakaran setempat, seminar mengenai sejarah dan kebudayaan orang - orang setempat, seminar tentang penulisan essay hingga ke persoalan plagiarism pun akan dibahas dalam seminar ini, bahkan mengenai ujian kampus pun juga diseminarkan dalam kegiatan O-week ini. Dan yang lebih menarik lagi ada kegiatan shopping tour dan wildlife sanctuary tour (jalan-jalan ke kebun binatang miliki universitas). Semua kegiatan yang ada pada O-week bersifat sunah atau bersifat pilihan. Tidak ada konsekuensi atau hukuman apapun yang ditrima oleh peserta bila tidak mengikutinya. Ya, mungkin bila MABA tidak ikut, mereka tidak mendapatkan informasi penting yang seharusnya mereka ketahui. Makan siang juga disediakan oleh panitia di masing - masing jurusan, TANPA harus berjuang dan berguling - guling ditanah terlebih dahulu.

Untuk mendukung kelancaran dan keberlangsungan kegiatan O-week ini, mahasiswa senior juga dilibatkan sebagai fasilitator dan mendampingi kelompok - kelompok mahasiswa baru. Mereka dengan ramah dan sabar bertugas untuk memberikan bantuan kepada MABA bila mengalami kesulitan, bukan sebaliknya memberikan pressure terhadap MABA agar mereka sungkan dan respek terhadap seniornya. Mahasiswa Lama tidak juga merasa akan kehilangan wibawanya dengan bersikap ramah kepada MABA. Justru, pengalaman saya ketika menjadi volunteer dalam O-week tersebut saya justru mendapatkan teman baru bahkan hingga saat ini seolah - olah menjadi keluarga baru bagi saya. Padahal, pada saat itu yang saya dampingi adalah mahasiswa baru S1. Kegiatan O-week benar - benar diorientasikan untuk membuka jembatan komunikasi antar teman seangkatan, antar MABA dan MALA dan bahkan antar mahasiwa dan staff kampusnya.

Kegiatan O-week dilakukan tidak sampai menjelang malam–alias hanya pada saat jam kerja kampus saja. Dan kegiatan ini biasanya berakhir di hari sabtu ditutup dengan kegiatan “city amazing race”–yang lagi-lagi kegiatan ini bersifat pilihan. Tidak ada konsekuensi atau hukuman apapun yang diterima oleh peserta bila mereka tidak mengikutinya. Dan saya kebetulan tidak mengikuti kegiatan tersebut dan tidak mendapatkan hukuman apa-apa dari panitia sehingga tidak meninggalkan cerita sedih atau menyebabkan trauma terhadap MABA yang baru mau akan menghadapi tantangan berikutnya, yaitu beradaptasi dengan dunia perkuliahan.
Berangkat dari pengalaman - pengalaman yang sudah ada, semoga di tahun - tahun berikutnya akan ada perbaikan dalam sistem orientasi MABA. Ospek sudah tidak lagi dijadikan sebagai ajang balas dendam senior kepada juniornya. Tapi benar - benar dijadikan sebagai moment untuk membimbing MABA dalam memasuki dunia baru mereka, dijadikan sebagai ladang menabur kebaikan kepada sesama, membangun jembatan komunikasi antar mahasiswa serta antara junior dengan seniornya, bahkan antar mahasiswa dengan dosen serta stafnya. Sehingga MABA benar - benar memiliki kesiapan mental, tidak merasa canggung dan memiliki rasa percaya diri yang kuat dalam menghadapi tantangan dunia kampus berikutnya. Wallahu a’lam bishawab.


13875813661001552039
suasana ospek bersahabat di negeri sebrang

*Re-post From: http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/19/kekerasan-ospek-pembentukan-karakter-kriminal-620685.html (Posted on December 19, 2013

Anak Gembala pun Bisa Sekolah ke Australia


“Aku adalah anak gembala, selalu riang serta gembira …” masih ingat dengan lagu itu kan? Iya, lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi cilik Tasya di awal tahun 2000-an. Namun bukan tentang lagu tersebut kisah ini saya tulis. Tetapi lagu ceria ini mungkin tepat untuk menggambarkan sepenggal kisah hidup saya bersama ayah, ibu serta saudara-saudara saya dimasa kecil dulu. Lagu ini juga menggambarkan betapa kisah keceriaan di masa lalu itu bisa menjadi penyemangat bagi saya untuk terus melangkah meraih cita-cita.
Saya lahir dari keluarga peternak di sebuah kota kecil bernama Lumajang, Jawa Timur. Walaupun tinggal di kota kecil dan tumbuh di tengah keluarga yang tak memiliki backround pendidikan hingga ke jenjang lebih tinggi, justru menjadi tantangan tersendiri buat saya. Ayah saya pendidikan dasar pun tak tamat, sementara ibu saya harus mengakhiri pendidikannya di bangku SMP. Namun, kondisi ini tidak menyurutkan langkah saya sebagai satu-satunya anak perempuan dari tiga bersaudara untuk mengejar cita-cita serta impian bisa melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Didikan ayah serta ibu dalam menjalani hidup memberikan pengaruh yang cukup besar dalam hidup saya. Hingga akhirnya saya memiliki tekad yang sangat kuat untuk terus mewujudkan mimpi – mimpi saya. Saya ingin menembus batas, meski berada dalam keterbatasan. Semangat, ketekunan dan kerja keras ayah dan ibu selalu menginspirasi saya. Semangat Ayah dan ibu, yang memulai usahanya mengembalakan bebek dalam skala kecil dari tahun ke tahun, hingga akhirnya dia berhasil mendirikan peternakan bebek sebagaimana yang pernah beliau cita-citakan, menjadi titik tolak dimana saya selalu mencontoh semangat orangtua saya, meski dalam keterbatasan.
Saya masih teringat respon keluarga ketika saya baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Berbekal kepercayaan diri yang tinggi, saya mengutarakan niat dan bersikeras ingin melanjutkan kuliah di kota Malang, kota pedidikan dengan kampus-kampus yang berdiri megah. Di kota dingin inilah saya ingin mengawali impian saya. Kenginginan saya ini tentu membuat keluarga khawatir, jika tinggal jauh dari kampung halaman. “Untuk apa perempuan jauh-jauh kuliah, nanti toh akan jadi ibu rumah tangga” ujar beberapa sanak kerabat. Namun ingatan saya terhadap ayat Allah yang menyatakan bahwa “Allah SWT akan meninggikan derajat orang – orang yang beriman dan diberi ilmu pengetahuan bererapa derajat”. Semakin menguatkan tekad untuk mencari ilmu. Niatan untuk mendapatkan keberkahan ilmu agar dapat memberi manfaat bagi banyak orang merupakan sebuah impian. Jawabannya hanya satu … Kejar impian itu dengan kerja keras, semangat dan tentu dengan doa yang tak henti-hentinya. Akhirnya keluarga setuju dan mengizinkan saya untuk melanjutkan kuliah di kota Malang. Belum selesai kuliah S1, dengan penuh percaya diri, saat pulang ke kampung halaman pada saat libur kuliah, saya membawa buku – buku dan brosur tentang kuliah di luar negeri. Tentu sebagai orang tua, ibu saya kembali terkejut, “Kamu pengen kuliah diluar negeri nduk? Jangan mimpi terlalu tinggi, dapat uang dari mana buat bisa kuliah di luar negeri?” mendengar kata – kata beliau, saya langsung terdiam dan lari ke kamar sambil menangis. Dalam isak tangis saya, saya berjanji dalam hati “Ibu, insyaallah saya akan tetap melanjutkan kuliah S2 meski tak harus ke luar negeri. Juga tanpa harus merepotkan ibu dan kakak lagi.” Memang, pada saat itu kondisi ekonomi di keluarga kami sedang carut marut semenjak keluarga kami diuji dengan kondisi kesehatan ayah kami.
Mulai saat itu, saya mulai melupakan mimpi untuk bisa kuliah ke luar negeri, walaupun demikian semangat untuk menuntut ilmu masih terus membara. Setelah lulus S1, mulailah saya menjalankan janji untuk tidak lagi merepotkan keluarga dalam hal keuangan. Bekerja, yah .. Bekerja,berbekal percaya diri dan kemampuan berbahasa inggris. Saya mulai mengajar di beberapa lembaga. Memanfaatkan waktu luang untuk memberi kursus private dari rumah ke rumah. Hingga akhirnya saya bertemu dengan seorang kawan yang memberi informasi tentang peluang kerja di universitas tempat saya menuntut ilmu. Mulailah saya bekerja sambil mencari beasiswa S2 di dalam negeri. Ilmu dan senantiasa menjadi pembelajar, itulah yang selalu menjadi tujuan. Alhamdulillah, akhirnya upaya itu membuahkan hasil. Saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi swasta dengan beasiswa 50% dari biaya kuliah. Kombinasi antara ‘tekad’ dan ‘nekat’, dengan penghasilan yang pas – pasan saya mengambil kesempatan tersebut meski saya harus mengambil jurusan yang sama sekali berbeda dengan materi kuliah yang pernah saya tempuh saat S1. Tidak disangka-sangka kenekatan saya berbuah manis dan justru menjadi batu loncatan. Pilihan jurusan yang tak linear antara S1 dan S2 yang saya tempuh menjadi bekal dan jalan bagi saya mempersiapkan diri untuk melamar beasiswa ke luar negeri.
Bersyukur … Mensyukuri pada apa yang telah kita capai, menghargai pada peraihan-peraihan yang telah kita dapatkan, tanpa harus menganggap diri merasa kecil dan minder dalam kondisi apapun, dan tetap rendah hati. Ini adalah hikmah yang bisa diambil dari perjalanan yang saya lalui sejauh ini. Namun tak lupa pula, kekuatan yang begitu lembut dan selalu terbayang dimanapun saya berada, adalah … Wajah lembut seorang ibu dan ayah. Masih teringat dulu semasa hidup ayah saya, beliau dengan polos sering berkata “sekolah yang jauh sekalian, kalau bisa sampai ke luar negeri” Meskipun pada saat itu hanya nampak seperti sebuah candaan, namun bagi saya kalimat itu adalah merupakan sebuah Doa. Demikian juga, doa ibu yang selalumenyertai membuat saya bisa memiliki sejuta harapan. Setiap restu ibu seolah menjadi pintu jalan keluar dari setiap masalah. Bai-bait doa ibu selalu tercurah untuk anak-anaknya tercinta.
Sungguh tak disangka, belum menyelesaikan kuliah S2, kembali … seorang sahabat memberi informasi tentang beasiswa S2 ke luar negeri. Ya Allah … Apakah ini sebuah jawaban atas doa-doa. Sebuah kesempatan mengapa tidak disambut dengan baik? Bila saja diterima, Alhamdulillah. Namun bila tidak, kesempatan ini akan memberi pengalaman tersendiri. Saya berharap atas hasil terbaik.
Dimulai dengan mengikuti tahap penjaringan yang diselenggarakan oleh kampus tempat saya bekerja. Tes tahap awal, Alhamdulillah …berhasil. Saat itulah saya bercerita kepada ibu, bila mendaftar beasiswa ke luar negeri. Mendengar cerita ini, ibu saya tidak mampu memberikan jawaban apa–apa. Sungguh … Beliau hanya terdiam. Bahagia tentunya karena saya mampu membuktikan apa yang telah menjadi tekad saya sejak lama, dan … Sedih, karena mengingat, saya akan pergi jauh darinya. Namun, kembali saya meyakinkan bahwa semua ini adalah sepenggal perjalanan. Ini adalah sebuah pengalaman hidup yang akan menempa saya menjadi anak sekaligus pribadi yang bisa lebih bermanfaat terhadap sesama. Namun, ibu saya masih terdiam…Saya menangkap isyarat ibu diam, berarti ibu tak restu saya menangkap peluang kuliah ke luar negeri. Saya mulai tak semangat mengerjar beasiswa ke luar negeri, tanpa restu ibu.
Tiba pada tahap selanjutnya, yaitu tes IELTS dan wawancara. Kembali teringat akan restu orangtua, saya hampir memutuskan untuk tidak melanjutkan pada tahap ini. Bagi saya restu orangtua adalah begitu penting. Untuk apa saya pergi jauh-jauh ke luar negeri bila orangtua saya tidak merestui? Ini sangat prinsip bagi saya. Namun, beberapa sahabat menyemangati untuk tetap menjalani tes berikutnya serta mengingatkan, bahwa semua ini adalah untuk pengalaman.
Ditengah kegalauan ini, tak disangka-sangka ibu datang ke Malang. Beliau tiba-tiba memberikan restunya, beliau berkata, “Pergilah bila itu memang sudah menjadi tekadmu, insyaallah ibu merestui bila kau melanjutkan sekolah ke luar negeri.” Lega sekali mendengar kata–kata beliau. Semangat saya seketika kembali dan hanya dengan sisa beberapa hari saja, saya kembali bersemangat belajar untuk mempersiapkan menghadapi tes berikutnya. Akhirnya tes IELTS dan wawancara sudah, tinggal menunggu hasilnya. Berdoa untuk hal yang terbaik. Namun yang paling penting bagi saya adalah pengalaman berharga selama proses ini. Dalam hati, kembali saya bertekad bahwa apa yang saya lakukan ini adalah untuk mencari ilmu dan keberkahan.
Hingga pada akhirnya, 11 Juni 2010, seperti mimpi rasanya saya bisa menginjakkan kaki di negeri Kanguru ini. Sebagai seorang anak pengembala, yang bukan hanya bisa mengembalakan ternak saja. Namun kugembalakan cita-citaku sejak dahulu untuk belajar sampai ke Luar negeri. Akhirnya kini … Tercapailah apa yang diimpikan. Semua ini karena doa serta ridho dari orang tua kita, akhirnya Allah memberi atas apa yang kita inginkan. Sahabat … Selalu peliharalah cita-citamu. Bukankah banyak orang memiliki cita-cita serta impian, namun impiannya lepas ditengah jalan. Karena kurang bisa untuk memelihara impian-impiannya. Peliharalah cita-citamu, carilah peluang dan jangan hanya berpangku tangan … Akhirnya saya menyimpulkan bahwa mendapat beasiswa bukanlah hanya karena kemampuan intelegensi saja, namun seberapa jauh seseorang mampu memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Tetap semangat dengan apa yang menjadi tujuan dan … Restu orang tua adalah yang utama.
Ulil Fitriyah : fitriyah_ulil@yahoo.co.id