ulil fitriyah

Jumat, 29 Agustus 2014

"Tuntut" vs "Tuntun": Beda Tipis Pengaruh Luar Biasa


Tidak banyak dari kita yang memberikan perhatian terhadap perbedaan istilah kedua kata tersebut. Tapi coba sedikit kita luangkan waktu sejenak untuk memikirkan makna kedua istilah tersebut beserta maknanya, terutama bagi para orang tua ataupun pendidik dalam berkomunikasi dengan anak - anaknya atau peserta didiknya.

Bila kita hitung, secara tidak sadar berapa kali kita telah berbicara “jangan ini”, “jangan itu”, “kamu harus ini”, “kamu harus begitu” kepada anak - anak kita?
Secara tidak sadar berulang - ulang istilah itu kita ucapkan kepada anak - anak kita. Tujuan kita, sebagai orang tua sebenarnya tidaklah salah, yaitu demi kebaikan anaknya. Namun, apakah cara kita menyampaikannya sudah benar? itulah masalahnya.

Sebagai contoh, ketika anak - anak kita bermain berlarian di tempat yang sekiranya membahayakan bagi mereka, secara spontan kita akan bilang “Jangan berlarian, nanti jatuh” atau terkadang terhadap anak gadis kita yang pulangnya sedikit larut malam, tidak jarang dari kita langsung mengomel dan secara tidak sadar kita akan bilang “jangan pulang malam” atau “kamu harus begini atau begitu”. Begitu pula mengenai prestasi anak di sekolah, banyak diantara kita yang menuntut anak - anak kita untuk rajin belajar, rajin membaca atau rajin untuk mengikuti kegiatan ini itu agar berprestasi di sekolah.

Kedua kata “jangan” dan “harus” tersebut,  juga tidak dapat dihindari sering kita dengar di ruang - ruang kelas mulai dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Pada tingkat dasar misalnya, entah berapa kali seorang guru mengatakan “kamu harus mengerjakan PR!” lebih parah lagi, guru akan menyertainya dengan nada ancaman “bila tidak, maka…….”. Hal serupa juga tidak jarang kita temui juga ditingkat level perguruan tinggi. Seringkali kita menemukan dosen yang mengatakan “bila ingin lulus mata kuliah, kalian HARUS…….”
Hal seperti ini nampaknya sepele, namun bila kita kaji lebih jauh, kedua kata “Jangan” dan “Harus” secara tidak sadar akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan otak dan bahkan perkembangan psikologi anak. Kata “jangan” atau kata “harus” yang seringkali kita ucapkan terhadap anak - anak kita merupakan salah satu bentuk dari pelecehan secara emosional (emotional abuse) terhadap mereka. Secara tidak sadar, dengan menggunakan kata - kata “jangan” kita membatasi ruang gerak dan kreatifitas anak - anak. Hal ini lebih diperparah bila kata “jangan” tersebut disertai dengan nada tinggi. Selain membatasi kreatifitas anak, hal ini juga akan memberikan dampak terhadap hilangnya rasa percaya diri dan menimbulkan rasa takut  atau khawatir karena mereka merasa terancam. Demikian pula dengan kata “harus”. Kita sebagai orang tua ataupun pendidik secara tidak langsung ikut berkontribusi menanamkan mental “penuntut” terhadap anak - anak kita, dan lebih parahnya mental “pengancam”.

Senada dengan hal ini,   Reasoners & Lane (2007: 34) mengatakan bahwa “anak - anak dibawah usia 3 tahun sangat sensitif terhadap apa yang dikatakan oleh orang tuanya”. Lebih jauh lagi mereka juga mengatakan bahwa “apa yang diterima oleh anak - anak akan memberikan dampak yang cukup besar terhadap mereka ketika dewasa kelak”. Maka jika mereka sering mendapatkan ancaman, maka tidaklah heran jika kelak sudah mereka lebih suka mengancam. Begitu pula, jika mereka sering mendapatkan “tuntutan” maka tidak heran jika kelak mereka menjadi pribadi yang “penuntut”, dan demikian pula jika mereka seringkali dilarang, maka tidak menutup kemungkinan tumbuhlah rasa khawatir yang berlebihan atau dengan kata lain hilangnya rasa kepercayaan pada diri mereka sendiri.

Lantas, bagaimana seharusnya menjadi orang tua atau pendidik?
Menurut Dr. Burstlen yang dikutip oleh Irawati Istiadi dalam bukunya “Mendidik dengan Cinta” mengatakan bahwa sebaiknya orang tua mengingatkan anak dengan penuh kasih sayang walaupun mereka dalam posisi yang salah.  Daripada menggunakan kata “jangan”, lebih baik diberikan alternatif pilihan. Bila anak kita masih kecil, kita dapat mengalihkan perhatiannya terhadap hal yang lain. Misalkan, ketika seorang anak menaiki sebuah kursi yang dirasa cukup membahayakan, sebaiknya orang tua atau pendidik lainnya mencarikan permainan lain yang lebih menarik sehingga dengan penuh kesadaran yang muncul dari dalam dirinya sendiri anak turun dari kursi tersebut. Dengan demikian kita secara halus “menuntun” anak kita untuk menghindari sesuatu yang membahayakan dirinya.

Demikian pula dengan kata “harus”. Daripada membuang energi untuk selalu mengingatkan anaknya agar “kamu harus gini atau harus gitu”, sebaiknya orang tua memberikan contoh terhadap anak - anaknya. Bagaimana anak mau membaca dan giat belajar, bila anak tidak pernah melihat ibu ataupun ayahnya membaca dan belajar? bagaimana anak mau pergi sholat bila anak tidak pernah melihat orang tuanya sholat? Bagaimana anak mau berprestasi di sekolah, jika orang tua tidak semangat mengukir prestasi dalam hidupnya?

Selain memberikan contoh, orang tua juga dapat memberikan pertimbangan - pertimbangan atau pemahaman dan mengajak anak - anaknya untuk berpikir akan dampak positif dan negatif terhadap apa yang dilakukan. Sehingga, alih - alih hanya sekedar memenuhi tuntutan orang tua, dengan tuntunan yang kita berikan, anak - anak melakukan apa yang kita inginkan dengan kesadaran yang tumbuh dari pemikiran mereka sendiri.
Dengan demikian, menjadi orang tua penuntut atau penuntun? sedikit berbeda dalam penulisan kata, beda dalam makna namun memiliki pengaruh yang luar biasa dalam perkembangan psikologi anak - anak kita dan masa depannya.
Wallahu a’lam bishawab.

*Re-post from: http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/25/tuntut-vs-tuntun-beda-tipis-pengaruh-luar-biasa-622741.html (Posted on December 25, 2013)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar