ulil fitriyah

Jumat, 29 Agustus 2014

"Tuntut" vs "Tuntun": Beda Tipis Pengaruh Luar Biasa


Tidak banyak dari kita yang memberikan perhatian terhadap perbedaan istilah kedua kata tersebut. Tapi coba sedikit kita luangkan waktu sejenak untuk memikirkan makna kedua istilah tersebut beserta maknanya, terutama bagi para orang tua ataupun pendidik dalam berkomunikasi dengan anak - anaknya atau peserta didiknya.

Bila kita hitung, secara tidak sadar berapa kali kita telah berbicara “jangan ini”, “jangan itu”, “kamu harus ini”, “kamu harus begitu” kepada anak - anak kita?
Secara tidak sadar berulang - ulang istilah itu kita ucapkan kepada anak - anak kita. Tujuan kita, sebagai orang tua sebenarnya tidaklah salah, yaitu demi kebaikan anaknya. Namun, apakah cara kita menyampaikannya sudah benar? itulah masalahnya.

Sebagai contoh, ketika anak - anak kita bermain berlarian di tempat yang sekiranya membahayakan bagi mereka, secara spontan kita akan bilang “Jangan berlarian, nanti jatuh” atau terkadang terhadap anak gadis kita yang pulangnya sedikit larut malam, tidak jarang dari kita langsung mengomel dan secara tidak sadar kita akan bilang “jangan pulang malam” atau “kamu harus begini atau begitu”. Begitu pula mengenai prestasi anak di sekolah, banyak diantara kita yang menuntut anak - anak kita untuk rajin belajar, rajin membaca atau rajin untuk mengikuti kegiatan ini itu agar berprestasi di sekolah.

Kedua kata “jangan” dan “harus” tersebut,  juga tidak dapat dihindari sering kita dengar di ruang - ruang kelas mulai dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Pada tingkat dasar misalnya, entah berapa kali seorang guru mengatakan “kamu harus mengerjakan PR!” lebih parah lagi, guru akan menyertainya dengan nada ancaman “bila tidak, maka…….”. Hal serupa juga tidak jarang kita temui juga ditingkat level perguruan tinggi. Seringkali kita menemukan dosen yang mengatakan “bila ingin lulus mata kuliah, kalian HARUS…….”
Hal seperti ini nampaknya sepele, namun bila kita kaji lebih jauh, kedua kata “Jangan” dan “Harus” secara tidak sadar akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan otak dan bahkan perkembangan psikologi anak. Kata “jangan” atau kata “harus” yang seringkali kita ucapkan terhadap anak - anak kita merupakan salah satu bentuk dari pelecehan secara emosional (emotional abuse) terhadap mereka. Secara tidak sadar, dengan menggunakan kata - kata “jangan” kita membatasi ruang gerak dan kreatifitas anak - anak. Hal ini lebih diperparah bila kata “jangan” tersebut disertai dengan nada tinggi. Selain membatasi kreatifitas anak, hal ini juga akan memberikan dampak terhadap hilangnya rasa percaya diri dan menimbulkan rasa takut  atau khawatir karena mereka merasa terancam. Demikian pula dengan kata “harus”. Kita sebagai orang tua ataupun pendidik secara tidak langsung ikut berkontribusi menanamkan mental “penuntut” terhadap anak - anak kita, dan lebih parahnya mental “pengancam”.

Senada dengan hal ini,   Reasoners & Lane (2007: 34) mengatakan bahwa “anak - anak dibawah usia 3 tahun sangat sensitif terhadap apa yang dikatakan oleh orang tuanya”. Lebih jauh lagi mereka juga mengatakan bahwa “apa yang diterima oleh anak - anak akan memberikan dampak yang cukup besar terhadap mereka ketika dewasa kelak”. Maka jika mereka sering mendapatkan ancaman, maka tidaklah heran jika kelak sudah mereka lebih suka mengancam. Begitu pula, jika mereka sering mendapatkan “tuntutan” maka tidak heran jika kelak mereka menjadi pribadi yang “penuntut”, dan demikian pula jika mereka seringkali dilarang, maka tidak menutup kemungkinan tumbuhlah rasa khawatir yang berlebihan atau dengan kata lain hilangnya rasa kepercayaan pada diri mereka sendiri.

Lantas, bagaimana seharusnya menjadi orang tua atau pendidik?
Menurut Dr. Burstlen yang dikutip oleh Irawati Istiadi dalam bukunya “Mendidik dengan Cinta” mengatakan bahwa sebaiknya orang tua mengingatkan anak dengan penuh kasih sayang walaupun mereka dalam posisi yang salah.  Daripada menggunakan kata “jangan”, lebih baik diberikan alternatif pilihan. Bila anak kita masih kecil, kita dapat mengalihkan perhatiannya terhadap hal yang lain. Misalkan, ketika seorang anak menaiki sebuah kursi yang dirasa cukup membahayakan, sebaiknya orang tua atau pendidik lainnya mencarikan permainan lain yang lebih menarik sehingga dengan penuh kesadaran yang muncul dari dalam dirinya sendiri anak turun dari kursi tersebut. Dengan demikian kita secara halus “menuntun” anak kita untuk menghindari sesuatu yang membahayakan dirinya.

Demikian pula dengan kata “harus”. Daripada membuang energi untuk selalu mengingatkan anaknya agar “kamu harus gini atau harus gitu”, sebaiknya orang tua memberikan contoh terhadap anak - anaknya. Bagaimana anak mau membaca dan giat belajar, bila anak tidak pernah melihat ibu ataupun ayahnya membaca dan belajar? bagaimana anak mau pergi sholat bila anak tidak pernah melihat orang tuanya sholat? Bagaimana anak mau berprestasi di sekolah, jika orang tua tidak semangat mengukir prestasi dalam hidupnya?

Selain memberikan contoh, orang tua juga dapat memberikan pertimbangan - pertimbangan atau pemahaman dan mengajak anak - anaknya untuk berpikir akan dampak positif dan negatif terhadap apa yang dilakukan. Sehingga, alih - alih hanya sekedar memenuhi tuntutan orang tua, dengan tuntunan yang kita berikan, anak - anak melakukan apa yang kita inginkan dengan kesadaran yang tumbuh dari pemikiran mereka sendiri.
Dengan demikian, menjadi orang tua penuntut atau penuntun? sedikit berbeda dalam penulisan kata, beda dalam makna namun memiliki pengaruh yang luar biasa dalam perkembangan psikologi anak - anak kita dan masa depannya.
Wallahu a’lam bishawab.

*Re-post from: http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/25/tuntut-vs-tuntun-beda-tipis-pengaruh-luar-biasa-622741.html (Posted on December 25, 2013)


Ospek: Belajar dari negeri sebrang

Membaca berita - berita mengenai ospek yang ujung - ujungnya berakhir pada kekerasan fisik, jadi menggelitik saya untuk ikut berbagi pengalaman mengenai masa orientasi MABA. Hal ini dengan harapan semoga di tahun - tahun mendatang sudah tidak ada lagi model ospek ataupun osjur– ataupun apalah namanya itu, yang penting soal orientasi mahasiswa baru, yang hanya menggunakan fisik dengan mengatas namakan ‘pembentukan karakter'.

Dari cerita ke cerita yang saya dapatkan, kejadian seperti ini tidak hanya menimpa di satu kampus saja. Bahkan, bila kita mau telusuri hampir semua (red–bukan semua) kampus melakukan hal yang sama. Bila tidak percaya, mari kita tanya masing - masing mantan mahasiswa angkatan lama dulu, bagaimana pengalaman orientasi MABA mereka. Pasti beragam cerita mengerikan yang kadang dianggap menarik bermunculan. Salah satu contoh cerita yang mungkin hingga sekarang masih sering kita dengar adalah cerita ‘jeritan malam’. Padahal bila kita mau berpikir lagi, tidak semua peserta memiliki ketahanan fisik dan mental yang sama. Ada peserta yang memang kuat dengan udara malam yang dingin, dan mungkin pula ada yang tidak. Ada peserta yang memang kuat tidak tidur bahkan hingga beberapa malam, tapi ada juga peserta yang tidak terbiasa dengan hal tersebut. Belum lagi tantangan menghadapi panitia ospek. Ada peserta yang memang kuat dan tahan banting dengan bentakan orang lain, ada juga yang memang tidak terbiasa dengan hal tersebut. Maka, tidak heran bila pada akhirnya, banyak kejadian orientasi MABA harus memakan korban baik itu yang bersifat ringan maupun hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Hal seperti ini juga pernah saya alami ketika saya akan bergabung dengan salah satu kegiatan ekstra, yang salah satu persyaratannya adalah mengikuti kegiatan orientasi. Dalam kegiatan tersebut, saya diminta untuk berjalan ditengah malam yang cukup melelahkan tanpa diijinkan untuk membawa sebotol minuman pun. Dan mendekati pos terakhir, saya ditawarkan minuman. Dan untungnya saya tahan untuk tidak minum dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga saya menolak minuman yang ditawarkan oleh panitia tersebut. Setelah kegiatan selesai, saya tanya kepada teman - teman yang lain yang menerima tawaran minuman tersebut. Ternyata minuman yang ditawarkan tersebut adalah air laut. Entah apa tujuan panitia memberikan minuman air laut kepada peserta orientasi tersebut.

Lain cerita dengan saya, salah seorang teman dari universitas yang berbeda, bercerita mengenai pengalamannya ketika masa orientasi. Dalam orientasi tersebut, peserta lelaki diminta oleh panitia untuk tengkurap, sementara seluruh peserta wanita diminta untuk menginjak peserta lelaki. Bila peserta wanita menolak, maka mereka akan mendapatkan hukuman dari panitia. Sontak, peserta wanita yang lain yang tidak ingin mendapatkan hukuman dari panitia, meminta seluruh peserta untuk melaksanakan perintah dari panitia. Dalam kondisi seperti ini, peserta hanya dihadapkan pada dua pilihan: MELAKSANAKAN atau MENDAPAT HUKUMAN. Lagi - lagi yang patut kita pertanyakan TUJUANNYA APA?

Hal lain lagi yang mungkin tidak asing bagi kita adalah permintaan yang aneh - aneh dari panitia. Misalnya, meminta membawa tas dari karton, kardus atau dari bahan lain yang kadang tidak bisa dicerna dengan akal kita dengan dalih melatih kreativitas dan mental peserta. Lagi - lagi, alih - alih melatih kreativitas peserta, panitia malah bekerja sama dengan pedagang untuk menyediakan keperluan yang ANEH - ANEH tersebut dengan dalih memudahkan peserta. Di luar kampus, para pedagang sudah siap dengan dagangan pernak - pernik yang dibutuhkan oleh peserta kegiatan ospek.

Sedikit berbagi pengalaman dengan tidak bermaksud mengagungkan bahwa “LUAR NEGERI” itu yang “WAH”!, saya pernah mengikuti masa orientasi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi luar negeri, dan pernah juga terlibat sebagai volunteer pada kegiatan tersebut. Dalam masa orientasi mahasiswa baru tersebut–yang biasanya disebut dengan “O-week” tidak sedikitpun saya temui peserta diminta untuk melakukan atau menyediakan hal - hal yang kadang susah dicerna oleh akal. Mahasiswa benar - benar diperlakukan secara manusiawi. Memakai baju bebas sebagaimana adanya, tanpa harus diberi embel - embel apa - apa. Alih - alih diminta membawa tas yang nyleneh, mahasiswa diberi “satchel” (tas) kampus yang berisikan buku - buku panduan kehidupan dikampus dan dikota tersebut, buku panduan belajar dikampus dan berisi lembaran informasi penting lainnya. Bahkan saya menemukan lembaran peta kampus serta informasi mengenai alat transportasi umum yang bisa saya gunakan untukmenuju kampus dan tempat - tempat umum lainnya.

Mengenai kegiatan selama seminggu dalam O-week, saya sama sekali tidak menemukan adanya cerita guling - guling ke tanah. Makan 1 permen untuk bersama atau 1 botol minuman untuk beberapa peserta, atau bahkan saya tidak menemukan sama sekali kegiatan yang mengharuskan saya berjemur di terik matahari. Yang saya temukan dalam kegiatan seminggu tersebut adalah: campus tour, library tour, seminar tentang safety–yang bahkan tidak tanggung - tanggung seminar ttg safety ini pematerinya didatangkan dari kepolisian dan petugas pemadam kebakaran setempat, seminar mengenai sejarah dan kebudayaan orang - orang setempat, seminar tentang penulisan essay hingga ke persoalan plagiarism pun akan dibahas dalam seminar ini, bahkan mengenai ujian kampus pun juga diseminarkan dalam kegiatan O-week ini. Dan yang lebih menarik lagi ada kegiatan shopping tour dan wildlife sanctuary tour (jalan-jalan ke kebun binatang miliki universitas). Semua kegiatan yang ada pada O-week bersifat sunah atau bersifat pilihan. Tidak ada konsekuensi atau hukuman apapun yang ditrima oleh peserta bila tidak mengikutinya. Ya, mungkin bila MABA tidak ikut, mereka tidak mendapatkan informasi penting yang seharusnya mereka ketahui. Makan siang juga disediakan oleh panitia di masing - masing jurusan, TANPA harus berjuang dan berguling - guling ditanah terlebih dahulu.

Untuk mendukung kelancaran dan keberlangsungan kegiatan O-week ini, mahasiswa senior juga dilibatkan sebagai fasilitator dan mendampingi kelompok - kelompok mahasiswa baru. Mereka dengan ramah dan sabar bertugas untuk memberikan bantuan kepada MABA bila mengalami kesulitan, bukan sebaliknya memberikan pressure terhadap MABA agar mereka sungkan dan respek terhadap seniornya. Mahasiswa Lama tidak juga merasa akan kehilangan wibawanya dengan bersikap ramah kepada MABA. Justru, pengalaman saya ketika menjadi volunteer dalam O-week tersebut saya justru mendapatkan teman baru bahkan hingga saat ini seolah - olah menjadi keluarga baru bagi saya. Padahal, pada saat itu yang saya dampingi adalah mahasiswa baru S1. Kegiatan O-week benar - benar diorientasikan untuk membuka jembatan komunikasi antar teman seangkatan, antar MABA dan MALA dan bahkan antar mahasiwa dan staff kampusnya.

Kegiatan O-week dilakukan tidak sampai menjelang malam–alias hanya pada saat jam kerja kampus saja. Dan kegiatan ini biasanya berakhir di hari sabtu ditutup dengan kegiatan “city amazing race”–yang lagi-lagi kegiatan ini bersifat pilihan. Tidak ada konsekuensi atau hukuman apapun yang diterima oleh peserta bila mereka tidak mengikutinya. Dan saya kebetulan tidak mengikuti kegiatan tersebut dan tidak mendapatkan hukuman apa-apa dari panitia sehingga tidak meninggalkan cerita sedih atau menyebabkan trauma terhadap MABA yang baru mau akan menghadapi tantangan berikutnya, yaitu beradaptasi dengan dunia perkuliahan.
Berangkat dari pengalaman - pengalaman yang sudah ada, semoga di tahun - tahun berikutnya akan ada perbaikan dalam sistem orientasi MABA. Ospek sudah tidak lagi dijadikan sebagai ajang balas dendam senior kepada juniornya. Tapi benar - benar dijadikan sebagai moment untuk membimbing MABA dalam memasuki dunia baru mereka, dijadikan sebagai ladang menabur kebaikan kepada sesama, membangun jembatan komunikasi antar mahasiswa serta antara junior dengan seniornya, bahkan antar mahasiswa dengan dosen serta stafnya. Sehingga MABA benar - benar memiliki kesiapan mental, tidak merasa canggung dan memiliki rasa percaya diri yang kuat dalam menghadapi tantangan dunia kampus berikutnya. Wallahu a’lam bishawab.


13875813661001552039
suasana ospek bersahabat di negeri sebrang

*Re-post From: http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/19/kekerasan-ospek-pembentukan-karakter-kriminal-620685.html (Posted on December 19, 2013

Anak Gembala pun Bisa Sekolah ke Australia


“Aku adalah anak gembala, selalu riang serta gembira …” masih ingat dengan lagu itu kan? Iya, lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi cilik Tasya di awal tahun 2000-an. Namun bukan tentang lagu tersebut kisah ini saya tulis. Tetapi lagu ceria ini mungkin tepat untuk menggambarkan sepenggal kisah hidup saya bersama ayah, ibu serta saudara-saudara saya dimasa kecil dulu. Lagu ini juga menggambarkan betapa kisah keceriaan di masa lalu itu bisa menjadi penyemangat bagi saya untuk terus melangkah meraih cita-cita.
Saya lahir dari keluarga peternak di sebuah kota kecil bernama Lumajang, Jawa Timur. Walaupun tinggal di kota kecil dan tumbuh di tengah keluarga yang tak memiliki backround pendidikan hingga ke jenjang lebih tinggi, justru menjadi tantangan tersendiri buat saya. Ayah saya pendidikan dasar pun tak tamat, sementara ibu saya harus mengakhiri pendidikannya di bangku SMP. Namun, kondisi ini tidak menyurutkan langkah saya sebagai satu-satunya anak perempuan dari tiga bersaudara untuk mengejar cita-cita serta impian bisa melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Didikan ayah serta ibu dalam menjalani hidup memberikan pengaruh yang cukup besar dalam hidup saya. Hingga akhirnya saya memiliki tekad yang sangat kuat untuk terus mewujudkan mimpi – mimpi saya. Saya ingin menembus batas, meski berada dalam keterbatasan. Semangat, ketekunan dan kerja keras ayah dan ibu selalu menginspirasi saya. Semangat Ayah dan ibu, yang memulai usahanya mengembalakan bebek dalam skala kecil dari tahun ke tahun, hingga akhirnya dia berhasil mendirikan peternakan bebek sebagaimana yang pernah beliau cita-citakan, menjadi titik tolak dimana saya selalu mencontoh semangat orangtua saya, meski dalam keterbatasan.
Saya masih teringat respon keluarga ketika saya baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Berbekal kepercayaan diri yang tinggi, saya mengutarakan niat dan bersikeras ingin melanjutkan kuliah di kota Malang, kota pedidikan dengan kampus-kampus yang berdiri megah. Di kota dingin inilah saya ingin mengawali impian saya. Kenginginan saya ini tentu membuat keluarga khawatir, jika tinggal jauh dari kampung halaman. “Untuk apa perempuan jauh-jauh kuliah, nanti toh akan jadi ibu rumah tangga” ujar beberapa sanak kerabat. Namun ingatan saya terhadap ayat Allah yang menyatakan bahwa “Allah SWT akan meninggikan derajat orang – orang yang beriman dan diberi ilmu pengetahuan bererapa derajat”. Semakin menguatkan tekad untuk mencari ilmu. Niatan untuk mendapatkan keberkahan ilmu agar dapat memberi manfaat bagi banyak orang merupakan sebuah impian. Jawabannya hanya satu … Kejar impian itu dengan kerja keras, semangat dan tentu dengan doa yang tak henti-hentinya. Akhirnya keluarga setuju dan mengizinkan saya untuk melanjutkan kuliah di kota Malang. Belum selesai kuliah S1, dengan penuh percaya diri, saat pulang ke kampung halaman pada saat libur kuliah, saya membawa buku – buku dan brosur tentang kuliah di luar negeri. Tentu sebagai orang tua, ibu saya kembali terkejut, “Kamu pengen kuliah diluar negeri nduk? Jangan mimpi terlalu tinggi, dapat uang dari mana buat bisa kuliah di luar negeri?” mendengar kata – kata beliau, saya langsung terdiam dan lari ke kamar sambil menangis. Dalam isak tangis saya, saya berjanji dalam hati “Ibu, insyaallah saya akan tetap melanjutkan kuliah S2 meski tak harus ke luar negeri. Juga tanpa harus merepotkan ibu dan kakak lagi.” Memang, pada saat itu kondisi ekonomi di keluarga kami sedang carut marut semenjak keluarga kami diuji dengan kondisi kesehatan ayah kami.
Mulai saat itu, saya mulai melupakan mimpi untuk bisa kuliah ke luar negeri, walaupun demikian semangat untuk menuntut ilmu masih terus membara. Setelah lulus S1, mulailah saya menjalankan janji untuk tidak lagi merepotkan keluarga dalam hal keuangan. Bekerja, yah .. Bekerja,berbekal percaya diri dan kemampuan berbahasa inggris. Saya mulai mengajar di beberapa lembaga. Memanfaatkan waktu luang untuk memberi kursus private dari rumah ke rumah. Hingga akhirnya saya bertemu dengan seorang kawan yang memberi informasi tentang peluang kerja di universitas tempat saya menuntut ilmu. Mulailah saya bekerja sambil mencari beasiswa S2 di dalam negeri. Ilmu dan senantiasa menjadi pembelajar, itulah yang selalu menjadi tujuan. Alhamdulillah, akhirnya upaya itu membuahkan hasil. Saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi swasta dengan beasiswa 50% dari biaya kuliah. Kombinasi antara ‘tekad’ dan ‘nekat’, dengan penghasilan yang pas – pasan saya mengambil kesempatan tersebut meski saya harus mengambil jurusan yang sama sekali berbeda dengan materi kuliah yang pernah saya tempuh saat S1. Tidak disangka-sangka kenekatan saya berbuah manis dan justru menjadi batu loncatan. Pilihan jurusan yang tak linear antara S1 dan S2 yang saya tempuh menjadi bekal dan jalan bagi saya mempersiapkan diri untuk melamar beasiswa ke luar negeri.
Bersyukur … Mensyukuri pada apa yang telah kita capai, menghargai pada peraihan-peraihan yang telah kita dapatkan, tanpa harus menganggap diri merasa kecil dan minder dalam kondisi apapun, dan tetap rendah hati. Ini adalah hikmah yang bisa diambil dari perjalanan yang saya lalui sejauh ini. Namun tak lupa pula, kekuatan yang begitu lembut dan selalu terbayang dimanapun saya berada, adalah … Wajah lembut seorang ibu dan ayah. Masih teringat dulu semasa hidup ayah saya, beliau dengan polos sering berkata “sekolah yang jauh sekalian, kalau bisa sampai ke luar negeri” Meskipun pada saat itu hanya nampak seperti sebuah candaan, namun bagi saya kalimat itu adalah merupakan sebuah Doa. Demikian juga, doa ibu yang selalumenyertai membuat saya bisa memiliki sejuta harapan. Setiap restu ibu seolah menjadi pintu jalan keluar dari setiap masalah. Bai-bait doa ibu selalu tercurah untuk anak-anaknya tercinta.
Sungguh tak disangka, belum menyelesaikan kuliah S2, kembali … seorang sahabat memberi informasi tentang beasiswa S2 ke luar negeri. Ya Allah … Apakah ini sebuah jawaban atas doa-doa. Sebuah kesempatan mengapa tidak disambut dengan baik? Bila saja diterima, Alhamdulillah. Namun bila tidak, kesempatan ini akan memberi pengalaman tersendiri. Saya berharap atas hasil terbaik.
Dimulai dengan mengikuti tahap penjaringan yang diselenggarakan oleh kampus tempat saya bekerja. Tes tahap awal, Alhamdulillah …berhasil. Saat itulah saya bercerita kepada ibu, bila mendaftar beasiswa ke luar negeri. Mendengar cerita ini, ibu saya tidak mampu memberikan jawaban apa–apa. Sungguh … Beliau hanya terdiam. Bahagia tentunya karena saya mampu membuktikan apa yang telah menjadi tekad saya sejak lama, dan … Sedih, karena mengingat, saya akan pergi jauh darinya. Namun, kembali saya meyakinkan bahwa semua ini adalah sepenggal perjalanan. Ini adalah sebuah pengalaman hidup yang akan menempa saya menjadi anak sekaligus pribadi yang bisa lebih bermanfaat terhadap sesama. Namun, ibu saya masih terdiam…Saya menangkap isyarat ibu diam, berarti ibu tak restu saya menangkap peluang kuliah ke luar negeri. Saya mulai tak semangat mengerjar beasiswa ke luar negeri, tanpa restu ibu.
Tiba pada tahap selanjutnya, yaitu tes IELTS dan wawancara. Kembali teringat akan restu orangtua, saya hampir memutuskan untuk tidak melanjutkan pada tahap ini. Bagi saya restu orangtua adalah begitu penting. Untuk apa saya pergi jauh-jauh ke luar negeri bila orangtua saya tidak merestui? Ini sangat prinsip bagi saya. Namun, beberapa sahabat menyemangati untuk tetap menjalani tes berikutnya serta mengingatkan, bahwa semua ini adalah untuk pengalaman.
Ditengah kegalauan ini, tak disangka-sangka ibu datang ke Malang. Beliau tiba-tiba memberikan restunya, beliau berkata, “Pergilah bila itu memang sudah menjadi tekadmu, insyaallah ibu merestui bila kau melanjutkan sekolah ke luar negeri.” Lega sekali mendengar kata–kata beliau. Semangat saya seketika kembali dan hanya dengan sisa beberapa hari saja, saya kembali bersemangat belajar untuk mempersiapkan menghadapi tes berikutnya. Akhirnya tes IELTS dan wawancara sudah, tinggal menunggu hasilnya. Berdoa untuk hal yang terbaik. Namun yang paling penting bagi saya adalah pengalaman berharga selama proses ini. Dalam hati, kembali saya bertekad bahwa apa yang saya lakukan ini adalah untuk mencari ilmu dan keberkahan.
Hingga pada akhirnya, 11 Juni 2010, seperti mimpi rasanya saya bisa menginjakkan kaki di negeri Kanguru ini. Sebagai seorang anak pengembala, yang bukan hanya bisa mengembalakan ternak saja. Namun kugembalakan cita-citaku sejak dahulu untuk belajar sampai ke Luar negeri. Akhirnya kini … Tercapailah apa yang diimpikan. Semua ini karena doa serta ridho dari orang tua kita, akhirnya Allah memberi atas apa yang kita inginkan. Sahabat … Selalu peliharalah cita-citamu. Bukankah banyak orang memiliki cita-cita serta impian, namun impiannya lepas ditengah jalan. Karena kurang bisa untuk memelihara impian-impiannya. Peliharalah cita-citamu, carilah peluang dan jangan hanya berpangku tangan … Akhirnya saya menyimpulkan bahwa mendapat beasiswa bukanlah hanya karena kemampuan intelegensi saja, namun seberapa jauh seseorang mampu memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Tetap semangat dengan apa yang menjadi tujuan dan … Restu orang tua adalah yang utama.
Ulil Fitriyah : fitriyah_ulil@yahoo.co.id