ulil fitriyah

Selasa, 22 September 2020

Inikah Sebuah Tanda? (Sang Dokter Itu: Part 2)

 Sabtu, 23 Agustus 2020

Sepulang takziyah, ibuku menelponku. Maklum, aku sendiri tidak bisa mengikuti acara pemakaman cak Bandi langsung pada hari H, karena posisiku yang berada dikota yang berbeda. Aku dan suamiku merencanakan pulang beberapa hari lagi ke kampung halamanku, setelah semua tanggung jawab yang ada dirumah kami tuntaskan semua. "Sambang Ibu sekalian nanti takziyah ke keluarga cak Bandi" begitu kata suamiku.

Dan sore itu, sembari melepaskan penat Ibu memulai kisahnya. Menceritakan bagaimana kronologi kejadian awal cak Bandi mulai merasakan sakit kepala hebat sampai tak mampu lagi menahannya, hingga pada akhirnya malaikat maut menjemputnya dengan begitu indah sehingga membuat iri kami sekeluarga. 

"Subhanallah nduk, opo amalan e Bandi iku kiro-kiro? Jan kok penak temen lek ndak onok umure" Begitu ibu memulai ceritanya melalui telpon sore itu.  "Kok yo pas dino Jum'at, dan gak ngrepoti wong akeh, mugo-mugo iku dadi dalan husnul khotimah e" ibu saya terus melanjutkan ceritanya.


************

Cak Bandi, seorang buruh harian biasa. Tidak pernah mengenyam bangku pendidikan pun tidak memiliki banyak pengetahuan tentang agama. Bahkan boleh dibilang cak Bandi orang yang sangat awam agama. Perjalanan hidupnya sejak kecil banyak dihabiskan untuk bekerja. Bekerja disawah mengembalakan bebek dan juga menjadi buruh harian dirumah alm. Pakde saya. "Cak Bandi itu mulai cilik yo dolan e ambek aku ta. Angon bebek bareng" begitu cerita cak Dul salah satu rekan kerjanya kepada saya. "Yo, cak Bandi ndisek nom - nom ane yo ngomben (mabuk-mabuk an) barang" begitu cak Dul bercerita sambil mengenang masa kecilnya. 

Begitulah mungkin sekilas gambaran masa lalu cak Bandi. Kami sekeluarga sangat tahu, selama bertahun - tahun bekerja dirumah cak Bandi belum pernah terlihat sholat. Urusan sholat adalah urusan masing - masing individu dengan Tuhannya. Begitu mungkin banyak orang perpendapat. Tetapi tetap tak bosan - bosan, keluarga selalu mengingatkan. Meskipun sholat merupakan bagian dari urusan masing-masing pribadi dengan tuhannya, toh, tidak ada salahnya sebagai sesama muslim untuk saling mengingatkan untuk kebaikan, bukan? Tapi entah, hidayah ALLAH itu tidak selalu datang secepat yang kita minta.

Maka tidak heran dan mungkin sekaligus membahagiakan, bila suatu hari tiba - tiba saya mendapatkan cak Bandi melakukan sesuatu hal berbeda dari biasanya. Iya!! dua tahun belakangan sebelum kepergian cak Bandi, saya mendapati beliau dengan penampilan yang rapi dan bersih seperti nampak habis menunaikan sholat diwaktu jam istirahat kerjanya. Sedikit tidak percaya, namun Ibu cerita dari ibu yang kemudian menguatkan kepercayaan saya.

"Alhamdulillah nduk, cak Bandi sudah berubah, sudah mau sholat" begitu penjelasan ibu saya suatu ketika. 

Begitupun pada saat bulan ramadhan tiba. Meskipun sehari - hari tetap bekerja sebagai buruh seperti biasanya, cak Bandi sudah menjalankan ibadah puasa, tidak seperti tahun - tahun sebelumnya. "Alhamdulillah" batin saya. 

Sungguh, kita sebagai manusia biasa tidak pernah tahu perjalanan spiritual masing - masing orang bagaimana. Kita sebagai manusia biasa, tidak pernah memiliki hak untuk menilai baik dan buruknya seseorang bagaimana. Kita sebagai manusia biasa, tidak pernah bisa menebak akhir hidup seseorang atau bahkan akhir hidup kita sendiri akan bagaimana. Dan sungguh sebagai manusia biasa, kita tidak pernah memiliki hak apakah kelak seseorang kelak layak masuk syurgaNya, ataukah nerakaNYA. Yang kita bisa hanyalah saling mengingatkan untuk selalu berada di jalanNYA, sembari terus tanpa henti merefleksi dan memperbaiki diri sendiri. 

Tidak berselang lama setelah masa perubahan itu, ternyata cak Bandi sudah dipanggil kembali kepadaNYA. Waktu yang begitu cepat dan cukup singkat. Tepat dihari Jum'at, menjelang adzan isya' akan dikumandangkan.  

Di hari Jum'at siang, tidak ada firasat apapun bahwa cak Bandi pada akhirnya akan meninggalkan kami semua. Cak Bandi bekerja full time sebagaimana biasanya. Hanya disela - sela bekerja, cak Bandi sesekali mengeluh sakit dadanya. Cak Bandi sudah berkali-kali diminta untuk istirahat saja sama rekan kerjanya. "Gak enak karo Yani aku" begitu kilah cak Bandi. Di sela - sela bekerja, sesekali cak Bandi ke dapur untuk meminta air hangat untuk minum. 

Sore hari menjelang, saatnya semua mengakhiri kerjanya dan bersiap bebersih diri untuk menunaikan sholat ashar. "kedebum" suara keras menandakan adanya benda jatuh. "cak Bandi semaput!" begitu cerita rekan kerjanya. Dan akhirnya cak Bandipun diantar pulang ke rumahnya. "ojo ditinggal moleh disek lek cak Bandi gak wes bener-bener enak an" begitu pesan kakak saya. 

Hingga sesampai dirumahnya, cak Bandi merasa dirinya baik - baik saja. "Wes, tinggalen moleh wes, aku gak popo" begitu permintaan cak Bandi kepada kedua rekan kerja--cak Man dan cak Dul, yang mengantarnya.

Namun, cak Man masih merasa ada yang ganjil dan masih mengkhawatirkan kondisi cak Bandi. Sempat diajak periksa ke puskesmas, namun hasil diagnosa dari puskesmas menyatakan bahwa cak Bandi tidak apa-apa. Saran dari dokter yang memeriksa, cak Bandi cukup diminta untuk istirahat dirumah saja dan akhirnya cak Bandipun dibawa kembali pulang ke rumahnya. Cak Man dan cak Dul,  masih belum merasa enak betul untuk segera pulang meninggalkan cak Bandi karena kondisinya yang masih belum stabil. Kedua rekan kerjanya itu tahu bahwa dirumah itu, cak Bandi hanya tinggal bertiga bersama istri dan satu anak perempuannya. 

Benar apa yang dikhawatirkan oleh cak Man, menjelang isya' cak Bandi kembali pingsan. Cak Bandi pun dipapah oleh cak Man dan cak Dul. Melihat kondisi cak Bandi yang sangat mengkhwatirkan, istrinya meminta putrinya untuk memanggilkan salah satu ustadz yang ada didaerah situ untuk memberikan pertolongan. Tidak lama kemudian sang ustadz pun datang. Entah apa yang membuat ustadz tersebut berinisiatif untuk menuntun cak Bandi mengucap kalimat tauhid. Bacaan pertama, cak Bandi masih sanggup menuntaskannya, bacaan kedua belum tuntas dan cak Bandi pun sudah pergi meninggalkan kami semua untuk selamanya.

Innalillahi wainna ilahi rooji'un..

Sungguh, akhir yang sangat indah. Mendengar ceritanya saya merinding dan berurai air mata, antara sedih dan bahagia. Dan terbersit dalam pikiran saya yang awam "Ya ALLAH, apakah itu tanda-tanda husnul khotimah?". Amalan tersembunyi apakah yang engkau miliki cak, sehingga akhir hidupmu sangat begitu cepat dan begitu indah. Sementara kita yang masih diberi kesempatan untuk hidup dan tinggal di dunia ini, belum tahu bagaimana akhir cerita dan akhir hidup kita kelak. 

Wallahu a'lam bishowab.                                                                                                              Sungguh hanya ALLAH lah yang maha tahu segala urusan antara diriNYA dan hambaNYA.






#MerekamJejak; #PangilingSlira

Translation:

1. "Subhanallah nduk, opo amalan e Bandi iku kiro-kiro? Jan kok penak temen lek ndak onok umure"   [subhanallah nak, apa amalannya Bandi itu kira-kira? kok sungguh enak sekali kalau tutup usia?"]

2. "Kok yo pas dino Jum'at, dan gak ngrepoti wong akeh, mugo-mugo iku dadi dalan husnul khotimah e" [kok ya pas hari Jum'at, dan tidak merepotkan banyak orang, semoga itu menjadi jalanny husnul khotimah]

3. "Cak Bandi itu mulai cilik yo dolan e ambek aku ta. Angon bebek bareng" [cak Bandi itu mulai kecil ya main sama saya, gembalakan bebek bersama]

4. "Yo, cak Bandi ndisek nom - nom ane yo ngomben (mabuk-mabuk an) barang" [ya, cak Bandi dulu masa mudanya ya juga suka mabuk - mabuk an]

5. "cak Bandi semaput!" [Cak Bandi semaput]

6. "ojo ditinggal moleh disek lek cak Bandi gak wes bener-bener enak an" [Jangan ditinggal pulang dulu bila cak Bandi belum benar - benar membaik]

7. "Wes, tinggalen moleh wes, aku gak popo" [Sudah tinggal pulang saja, aku sudah tidak apa-apa]

1 komentar:

  1. MasyaAllah....semoga kita termasuk khusnul khotimah....aamiin

    BalasHapus