ulil fitriyah

Jumat, 21 Agustus 2020

Sang dokter Itu..

Cak Bandi, begitu keluarga kami dan rekan-rekan kerjanya memanggilnya. Orang Desa yang belum pernah merasakan yang namanya bangku sekolah. Gelar dokternya diberikan secara honoris causa oleh komunitas peternak bebek karena sering membantu mereka untuk mendiagnosa bebek peliharaanya. "Kalau sudah ketemu cak Bandi, cukup dilihat saja dari jauh sudah tahu mana bebek sehat dan tidak, mana bebek yang rajin bertelur dan bebek yang suka malas-malasan dan maunya hanya makan" begitu abah saman (sesepuh ternak) berkisah. "suruh anakmu belajar ke pakde bandinya" begitu beliau berpesan. 

Masih teringat,  beberapa bulan yang lalu, sempat cak Bandi ingin dioleh-olehkan barang sederhana "cobek" yang kami tidak bisa segera memenuhinya karena seringkali lupa setiap kali pulang ke kampung halaman. Alhamdulillah, beruntung kami masih diberikan kesempatan untuk memenuhinya, meskipun itu belum sesuai dengan harapannya. Istri cak Bandi meminta cobek dari batu yang kecil, sementara kami membawakan cobek yang besar. "Mbakmu mbok kongkon dodol rujak a" begitu candanya pada saya. Dan spontan langsung saya balas" gak papa wes, gawe mantu wiwit marine--putri semata wayangnya yang sudah mulai beranjak dewasa" canda saya, sembari saya meniatkan untuk menuruti keinginannya yang belum terpenuhi--dibelikan cobek ukuran kecil dari kota Malang, kota tempat dimana kami tinggal . 

Bagi saya, cak Bandi itu saudara jauh tetapi memiliki ikatan bathin yang cukup dekat. Kedekatan bathin ini terbangun karena cak Bandi sudah sangat lama ikut bekerja di keluarga kami. Mulai dari usia sekolah dasar, cak Bandi tidak bersekolah tetapi ikut kerja di rumah almarhum pakde saya, hingga disaat kakak saya mulai merintis bisnis bebeknya mulai dari awal. Cak Bandi inilah yang banyak tahu bagaimana jungkir baliknya kakak saya memulai usahanya. 

Disisi lain, cak Bandi ini digemari oleh anak-anak saya. Sering ikut ngemong  anak-anak dikandang bebek dirumah kakak saya, karena kesehariannya memang cak Bandi bekerja disana. Banyak hal sederhana tetapi mengesankan bagi anak-anak saya, yang dilakukan bersama pakde Bandinya (begitu anak saya memanggilnya). Mulai dari cerita tentang bebek, mandi bersama disungai hingga mancing bersama. Tidak jarang, si Uwais, anak pertama saya pulang ke Malang dengan membawa ilmu baru tentang merawat bebek dari pakde Bandinya dengan tanpa melupakan kutipan "kata pakde bandi". Sehingga, tidak heran ketika si sulung anak saya mendengar berita bahwa pakde Bandinya berpulang, diapun menangis tersedu-sedu. Sungguh, bagi kami kesederhanaan dan kesabaran pakde Bandi meninggalkan kesan yang sangat mendalam terutama bagi anak-anak saya. 

Pernah suatu ketika, cak Bandi mendapatkan kesempatan untuk berangkat umroh yang bagi kebanyakan orang, mungkin akan disambut dengan penuh suka cita. Tapi tidak dengan cak Bandi ini. Sebagai orang desa yang awam, cak Bandi menolak demi menghormati keputusan istrinya tanpa melihat apapun alasannya. Cak Bandi rela menolaknya hanya karena tidak mendapatkan izin dari istrinya. Banyak orang yang menyayangkan keputusannya ini. Tetapi bagi cak Bandi, mungkin ini adalah bagian dari caranya mengabdi dan mendekatkan diri pada Tuhannya. Memangkas egonya demi menjaga keutuhan dan kebahagiaan keluarganya terutama istrinya. 

Dan kini cak Bandi, telah pergi untuk selamanya. Sosok yang tidak banyak ditahu, tetapi sesungguhnya banyak berjasa. Tanpa cak Bandi, anak-anak tidak akan pernah memiliki pengalaman dari guru nyata tanpa banyak teori untuk belajar ilmu bebek. Tanpa cak Bandi, mungkin pekerjaan menyortir bebek akan jauh lebih susah. Tanpa cak Bandi, mungkin...., tanpa cak Bandi, mungkin... dan banyak kemungkinan - kemungkinan lainnya yang tidak bisa kami lakukan sendiri. Cak Bandi, bagian kecil dari keluarga kami yang sesungguhnya memiliki peran luar biasa. 

Dari cak Bandi, saya belajar untuk menghargai waktu dan menyegerakan niat baik karena kita tidak akan pernah tahu kapan saatnya untuk kita atau saudara kembali pulang. Bisa saja malaikat menjemput kita atau saudara kita dengan sangat tiba-tiba. Tanpa permisi, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Andaikan saat itu, saya masih tetap lupa (abai) tidak membelikan cobek untuk istrinya, tentu ini akan menjadi ganjalan dihati saya. "Cobek" permintaan yang sangat sederhana, tetapi mungkin akan menjadi penyesalan tersendiri disepanjang hidup saya. 

Dari cak Bandi, saya belajar untuk menjadi sederhana dan menjadi tulus karena dari dulu hingga maut menjemput,  cak Bandi tidak pernah neko-neko ya tetap begitu-begitu saja. Posisinya sebagai orang yang paling senior ditempat kerja, tidak lantas menjadikan dirinya menjadi superior bagi sesama rekan kerjanya. Demikian juga, meskipun banyak orang telah dibantu, cak Bandi tidak pernah mengungkit-ngungkitnya. Cak Bandi dengan ke-awaman-nya, tidak pernah menjadikan dirinya sebagai "Tuhan" yang mampu merubah nasib seseorang. Satu kalipun saya tidak pernah mendengar kata "kalau bukan karena AKU, pasti dia tidak akan bisa...." yang terucap dari cak Bandi meskipun banyak hal yang telah dilakukan untuk membantu banyak para peternak. 

Dari cak Bandi, saya belajar tentang fokus dan menjadi utun. Karena keahlian yang dimilikinya dalam dunia bebek bukan karena cak Bandi pernah duduk dibangku sekolah. Pengalaman dan istiqomahlah yang menempanya. Semenjak awal belajar kerja, cak Bandi ikut almarhum pakde saya yang juga seorang peternak sekaligus pedagang bebek. Ketika pakde sudah berpulang mendahului kami semua, cak Bandi berpindah kerja ikut kakak saya yang juga seorang peternak dan pedagang bebek. Maka tidak heran jika cak Bandi sangat ahli dalam mengatasi persoalan yang peternak hadapi. 

Trimakasih cak Bandi, Adamu banyak membantu dan tiadamu banyak meninggalkan kenangan dan juga ilmu. 

Selamat jalan Sang dokter, semoga tempat terbaik disisiNYA sudah disiapkan untukmu.. 

Lahul faathihah...


#MerekamJejak; #RefleksiDiri; #PangilingSlira

1 komentar:

  1. Amazing sekali Miss Ulil 👍👍👍😊
    Let me learn about your post, coz I am still stupid

    BalasHapus